loving strangers



“Aku ingin putus.”

Di tengah bisingnya suara klakson kendaraan dan orang-orang yang ramai memenuhi jalanan, aku mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh kekasihku selama 8 tahun di depanku tanpa fokus. Kafe yang kita tempati saat ini tidak terlalu ramai, hanya ada dua pengunjung lain yang duduk di tempat yang cukup jauh dari kami dan petugas kafe pun sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Aku hanya menatap minuman yang sudah mendingin karena aku memesannya setengah jam yang lalu.

Sejujurnya, aku tahu bahwa hari seperti ini memang akan datang. 

Kekasihku, Rian, adalah lelaki yang selama ini selalu bersamaku sejak kita berpacaran selama masa kuliah. 

Aku mencintainya, walaupun aku tidak tahu apakah rasa cintaku memang sebesar yang dirasakan orang-orang saat jatuh cinta.

“Mengapa tiba-tiba begini?” Secara perlahan, aku mulai menatap wajah kekasihku dan mengeluarkan pertanyaan klasik karena aku tidak tahu harus berkata apa menanggapi ucapannya. Entah mengapa, aku merasa sosok yang ada di depanku sekarang ini adalah lelaki yang familier namun juga terasa asing. 

Aku mulai menyadari beberapa perubahan yang muncul di wajahnya, seperti tanda-tanda penuaan dengan beberapa keriput yang muncul di bawah kelopak matanya yang semakin sayu. Apakah dia kelelahan selama ini dengan hidupnya sendiri? Atau berpacaran denganku hanya mengikis kebahagiaannya perlahan-lahan?

Rian menatap jendela dan menyaksikan pemandangan jalanan malam hari yang ramai dengan orang-orang yang pulang ke rumah masing-masing. Dia menghela napas, dan tatapan dinginnya beralih menatapku. “Karena aku lelah berhubungan denganmu. Kamu ini seperti robot, tidak memiliki hobi apa pun dan selalu menyuruhku memahamimu seolah aku bisa membaca pikiranmu. Kamu tidak pernah mengutarakan apa yang kamu maksud dengan jelas, selalu diam dan dingin seperti es. Dan juga...”

Ucapan Rian terhenti. Dia menelan ludah, sambil menghindari tatapanku yang berusaha mendengarkannya dengan saksama.

Sebenarnya, tidak juga.

Aku tahu jelas alasan lain yang membuatnya ingin berhenti, dan oleh sebab itu aku sedikit kesal karena dia mengulur-ulur waktu dan tidak ingin segera mengungkapkannya.

Aku menghela napas panjang dan meminum es teh manis murah yang kusukai. “Kamu jatuh cinta dengan gadis lain, kan?”

Rian membelalak dan kehilangan kata-kata. Dasar bodoh, ekspresimu itu mudah dibaca, ucapku dalam hati dan hanya memandangnya dengan bosan. Rian gelagapan dan terkejut, “Kamu sudah tahu?! Dan kamu diam saja selama ini?”

Aku mendengus. “Iya. Aku diberitahu temanku dua bulan lalu, katanya dia melihat kamu dan anak magang di perusahaanmu bergandengan tangan saat di mal.” 

Sebenarnya aku sedikit berbohong. Temanku Lea yang bekerja di dalam satu gedung dengan Rian tidak pernah memberitahuku bahwa mereka bergandengan tangan. Lea hanya berkata jika dia tidak sengaja melihat Rian dengan anak magang yang sedang kuliah itu berjalan bersama di mal.

Namun, jika melihat respons Rian saat ini, mungkin kebohonganku secara tidak sengaja menjadi kebenaran.

“Lantas, kenapa kamu tidak marah atau meminta putus?!” Rian sedikit berteriak, yang sejujurnya membuatku ingin meninju wajahnya. Padahal dia yang jatuh cinta dengan orang lain dan menyalahi kaidah-kaidah orang berpacaran, lantas kenapa aku yang dibentak seperti ini?

Sebenarnya, hubunganku dengan Rian sama saja seperti hubungan orang-orang yang berpacaran lainnya.

Dia adalah orang yang pertama kali menyatakan cintanya padaku, karena kamu cantik seperti malaikat. Aku masih teringat saat dia mengungkapkan perasaannya dengan sangat malu-malu ketika kami mengerjakan tugas untuk kerja kelompok kuliah.

Pada saat itu, aku merasa sedikit ragu karena aku merasa aku tidak secantik itu. Rian adalah anak tampan yang ceria, dan aku tidak tahu mengapa aku yang sangat biasa dan tidak menonjol bisa dia sukai. Selama di kelas, kami juga tidak terlalu bertegur sapa karena kami berada di lingkup pertemanan yang berbeda.

Akan tetapi, aku memutuskan untuk setuju berpacaran dengannya karena dia adalah anak yang baik dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar. Setelah lulus kuliah, aku dan dia sempat mengalami masalah karena kami kesulitan mendapatkan pekerjaan. 

Kita berjanji akan bekerja di tempat yang sama, akan tetapi ternyata realitas tidak seindah apa yang kita cita-citakan selama ini.

Pada akhirnya, dia berhasil diterima di perusahaan besar ternama, sedangkan aku bekerja sebagai kasir di toko buku pinggir jalan. Aku cukup iri pada pencapaiannya, namun aku hanya memendamnya dalam hati.

Rian adalah kekasihku, dan bukan rivalku. 

Setiap hari aku selalu menanamkan hal tersebut dalam otakku agar tidak terlalu iri padanya.

Selama 8 tahun, aku dan dia berhubungan dengan normal. Berkomunikasi seadanya, berkencan di hari libur, dan sebisa mungkin aku menghindari konflik karena tidak suka berdebat. Kita terbiasa dalam kebiasaan stagnan dan seadanya yang tenang seperti air di sungai.

Namun, mungkin kebiasaan inilah yang membuatnya kehilangan rasa cinta dan afeksinya padaku.

Sekarang kita sudah berusia 31 tahun. Selama satu windu, ada banyak hal yang terjadi dan mungkin aku bahkan tidak ingat sebagian besar kejadian-kejadian yang kita alami. 

Aku mencintainya, sungguh. 

Akan tetapi, aku juga tidak begitu sangat mencintainya hingga ingin menangis tersedu-sedu karena dia sudah berselingkuh. Aku lelah dengan kehidupan dan karierku yang tidak ada tujuan, sehingga saat tahu bahwa kisah cintaku sepertinya akan berakhir, aku merasa itu hal wajar seperti masalah lain yang memang pasti akan datang.

Rasa kesalku pada Rian hanya muncul karena aku benci tingkahnya yang pura-pura tidak bersalah dan memilih untuk menyukai perempuan yang satu dekade lebih muda darinya. Padahal ada begitu banyak wanita lain yang lebih baik dariku dan usianya tidak jauh darinya, namun dia memutuskan untuk menjadi lelaki yang kubenci; tipe lelaki yang mengincar perempuan berusia sangat muda dan masih naif.

Seperti ayahku dulu yang meninggalkan keluargaku.

Atau, apakah aku memang perempuan yang seperti robot seperti yang dia katakan?

“Putri, kenapa kamu malah bengong?” Rian mengibaskan tangannya di depan wajahku seolah memintaku untuk sadar dari lamunan. Aku tidak sadar bahwa aku melamun, dan ternyata mengingat masa lalu sejenak cukup membuatku merasa sentimental.

“Hanya mengingat masa saat kita pertama kali pacaran. Kamu dan aku memang sudah banyak berubah, ya. Seleramu juga berubah, kamu benar-benar mirip om-om sekarang.” Aku tertawa sinis menatap Rian, dengan sengaja memilih kata-kata sarkastis yang bisa membuatnya merasa sadar akan kesalahannya.

Rian terdiam dan mengeluarkan ekspresi penuh rasa bersalah, namun aku tidak ingin menghabiskan energiku lagi dengan marah-marah atau menceramahinya. 

Lelaki yang ada di hadapanku sekarang bukanlah lelaki yang kusukai selama ini. Dia sudah pergi sejak lama, dan aku hanya tidak ingin membebaskannya karena aku sudah terlanjur nyaman dan terbiasa dengan masa-masa yang kita lewati.

Kini, sudah waktunya aku menyerah dan melepaskannya.

Jika boleh jujur, tentunya aku merasa sedih. Namun bukan berarti aku ingin menangis tersedu-sedu dan memohon padanya agar tidak memutuskanku. Pada akhirnya, tahun-tahun yang kita lewati bersama tidak memiliki arti apa-apa karena pada dasarnya perpisahan tetap akan hadir dalam setiap hubungan.

“Baiklah, mari kita putus. Aku akan menghapus nomormu dan seluruh barang-barangmu yang ada di rumahku akan kukirim lewat paket. Aku pulang dulu.” Aku meraih tas dan berdiri, bersiap-siap untuk meninggalkan meja kami.

Akan tetapi, Rian memegang pergelangan tanganku dan memasang ekspresi seperti hendak menangis. Aku merasa sedikit malu, namun untungnya pengunjung di kafe ini hanya sedikit sehingga aku tidak terlalu mempermasalahkan tingkahnya. 

“Inilah yang membuatku jengkel padamu. Selama ini, aku tidak tahu sama sekali apa yang ada di pikiranmu. Aku tidak tahu apakah kamu cinta padaku. Kamu tidak marah atau menangis atau emosi saat tahu aku berselingkuh dengan gadis lain. Apakah bagimu aku hanya orang yang tidak berarti sama sekali?!”

Rian mencerocos sambil menahan air mata yang hendak keluar dari kedua matanya. Aku tahu dia adalah lelaki yang sensitif, namun apa yang dia ucapkan sedikit membuatku jengkel karena dia mempertanyakan loyalitas yang kuberikan padanya. 

“Dulu aku mencintaimu. Sekarang kita sudah dewasa dan terlalu tua untuk bertingkah seperti ini, kan? Lepaskan tanganku, seharusnya kamu senang aku tidak melempar air minum ke wajahmu.”

Aku melontarkan setiap kata-kata dengan menahan emosiku.

Selama beberapa detik, kami berpose dalam posisi yang sama tanpa mengucapkan kata-kata. Pengunjung di kafe beberapa kali melirik ke arah kami, dan aku tahu mereka pasti melakukan analisa dan penasaran dengan konflik apa yang kami debatkan. Aku tidak tahan lagi menahan rasa malu dan menepis tangannya, lantas segera pergi menuju ke kasir. Setelah membayar pesananku yang hanya es teh manis, aku memutuskan untuk segera keluar dari kafe tanpa membalikkan badan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku dicampakkan namun terasa seperti aku juga yang mencampakkannya.

Dalam perjalanan pulang, aku mengeluarkan ponsel dan menatap layar ponsel. Nomor kontak Rian dan segala percakapan kami masih tersimpan dengan baik di drive, karena aku selalu mencadangkan seluruh pesanku dengannya. Aku sering membaca kembali pesan-pesan kami karena terkadang kita membahas hal menarik, seperti film, musik, hingga hal-hal tidak penting. Dia sering mencoba mengirimkan guyonan yang sebenarnya tidak lucu bagi sebagian orang, akan tetapi dia selalu membuatku tersenyum.

Dan sekarang, semuanya sudah berakhir.

Tidak akan ada lagi pesan tidak lucu dari Rian. Tidak akan lagi segala foto makanan tidak penting yang dia kirimkan selama dia bekerja. Tidak akan ada lagi pesan suara Rian yang bernyanyi dengan suaranya yang buruk dan buta nada. Tidak ada lagi pesan selamat pagi Tuan Putri!! setiap dia berusaha untuk memberiku semangat saat aku merasa tertekan dengan kehidupan.

Apakah selama ini, aku memang terlalu bergantung padanya dan tidak pernah menunjukkan rasa cintaku? Apakah aku memang hidup layaknya robot seperti yang dikatakan olehnya?

Tiba-tiba rasa aneh yang menusuk membuat bulu kudukku merinding.

Sebuah realisasi bahwa selama ini, aku memang sangat jarang memberikan afeksi pada Rian layaknya kekasih pada umumnya. Sejak kecil, aku berpikir bahwa aku tidak boleh terlalu menunjukkan ekspresiku karena takut orang akan membenciku. Aku takut bahwa orang akan memandangku aneh jika memberikan mereka hadiah secara berlebihan, takut bahwa mereka akan membenci tingkahku jika aku menunjukkan pada mereka bahwa sebenarnya aku tidak ingin ditinggal sendirian. Ibuku dulu ditinggalkan oleh ayahku karena ibu terlalu ikut campur dalam segala hal yang berkaitan dengan ayah, dan aku masih mengingat segala pertengkaran yang mereka lakukan saat aku masih kecil.

Aku berhenti berjalan di tengah-tengah jalan depan mal yang ramai.

Padahal, tadi aku merasa baik-baik saja saat mendengar Rian ingin meminta putus. Aku tidak menangis saat temanku memberi tahu bahwa Rian berselingkuh, karena aku merasa bahwa aku memang tidak bisa mengontrol perasaan cinta orang lain.

Lantas, mengapa aku tiba-tiba merasa takut dan kesepian?

Jarak antara kafe yang kita datangi tadi dengan kosku tidak terlalu jauh, sehingga aku memutuskan untuk berjalan. Akan tetapi, entah mengapa pada saat ini kosku terasa begitu jauh dan membuatku ketakutan. Setiap langkah yang kulalui terasa berat seakan aku akan dihisap oleh tanah yang ada di bawahku dan aku akan hilang di tengah gelapnya bumi.

Kini, aku benar-benar sendirian.

Meskipun di sekitarku ada begitu banyak orang yang berlalu lalang karena ini masih jam 7 malam, namun aku merasa sendiri. Eksistensiku di tengah-tengah keramaian ini seolah tak berarti apa-apa, seolah-olah jika aku hilang secara mendadak tidak akan ada orang yang sadar. Mungkin ibuku akan berusaha mencariku, namun dia tidak akan berhasil mencariku karena aku hilang dihisap oleh kesunyian.

Apakah hidupku akan berjalan seperti ini hingga aku mati? Apakah temanku bisa menyadariku jika aku mati mendadak di kamar kos? Apa yang akan terjadi jika aku tersedak dan tidak ada orang yang membantuku? Jika aku terpeleset di kamar mandi dan mati—

“Maafkan saya!”

Saat aku tengah tenggelam dalam imajinasi liar dan ketakutan yang luar biasa, seseorang menabrakku dari belakang sehingga membuatku terjatuh. Napasku yang seolah terhenti sejenak kini mulai kembali berfungsi secara normal karena rasa kaget yang membuatku terdistraksi. “Apakah Anda tidak apa-apa? M-maaf saya tadi tidak sengaja!”

Suara laki-laki yang terdengar lembut namun penuh rasa khawatir menyadarkanku dari ketakutan yang kurasakan. Akan tetapi, aku merasa kehilangan seluruh energi yang menopang tubuhku dan sekarang aku tidak bisa bangkit kembali. Mataku panas dan, aku benci mengatakan ini, namun sepertinya aku hendak menangis. Entah karena apa.

Aku hanya bisa terdiam menatap permukaan trotoar yang ada di bawahku dan menghapus sedikit air mata yang keluar dari mataku menggunakan lengan baju yang kupakai. Setelah merasa tenang, aku menatap laki-laki yang ternyata masih ada di sampingku. “Saya tidak apa-apa. Anda bisa pergi sekarang.”

Raut wajahnya terlihat penuh kekhawatiran, dan hal itu membuatku cukup risi dan bingung karena kita adalah orang asing. Seharusnya dia tidak perlu merasa terlalu khawatir karena kita tidak akan pernah berpapasan lagi.

Secara kikuk, dia mencoba mencari sesuatu di kantong jaketnya. “Tapi sepertinya telapak tangan Anda terluka. Apakah saya boleh melihatnya?”

Meskipun sedikit risi dan tidak nyaman, aku mempersilakannya untuk melihat telapak tanganku. Aku baru sadar bahwa tanganku sedikit lecet setelah dia tabrak, namun lecet tersebut tidak terasa perih sama sekali. Mungkin aku begitu terpaku pada pemikiranku sendiri hingga aku tidak sadar bahwa ada sedikit darah yang mengalir dari tanganku.

Laki-laki itu mulai membersihkan lukaku menggunakan kain tipis berwarna merah muda yang dia ambil dari kantongnya tadi. Kain tersebut sedikit menarik perhatianku karena bentuknya yang sudah cukup kusut, seolah sudah dipakai dalam waktu yang begitu lama. Mungkin kain itu merupakan hal berharga yang dia bawa selama ini, dan hal itu membuatku merasa sedikit bersalah karena dia harus menggunakannya untuk menyeka luka wanita asing yang baru pertama kali ditemuinya.

“Terima kasih, tapi saya benar-benar tidak apa-apa. Maaf ya, jadi merepotkan.” Aku hanya terdiam membiarkannya menyeka luka dan debu kotor yang ada di telapak tanganku.

“Tidak sama sekali! Saya yang harusnya meminta maaf karena sudah menabrak Anda tadi. Maaf, tadi saya tidak sadar kalau ada orang di depan saya.”

Aku tersenyum, merasa sedikit kagum karena di zaman yang penuh dengan orang-orang individualis ini, masih ada anak laki-laki yang sebaik dan sesopan ini. “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong saya.”

Aku sebenarnya ingin segera pergi dan tidur di kos karena segala perasaan dan pikiran yang berkecamuk di kepalaku membuatku tidak bisa berpikir jernih. Setelah selesai menyeka tanganku, aku mengucapkan terima kasih sekali lagi dan bersiap untuk pergi. Namun, laki-laki muda ini diam seolah memikirkan sesuatu, tetapi ragu untuk mengutarakan apa yang ingin dia katakan.

Setelah beberapa detik, akhirnya dia menatapku dan berkata, “Kak, mohon maaf saya lancang. Tapi, saya baru pertama kali berada di kota ini dan saya tersesat. Apa kakak bisa menemani saya makan sebentar saja?”

Butuh waktu beberapa saat untuk mencerna apa yang sebenarnya dia katakan tadi. Aku kira dia adalah anak sopan yang tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi sepertinya aku tidak terlalu akurat dalam menilai orang lain. Bagaimana mungkin dia mengajak orang asing makan begitu saja? Apa ini adalah skema penipuan mode baru? Wajahnya sih terlihat polos, namun bagaimana jika dia adalah penipu yang ingin menghipnotisku?

Aku hanya terdiam menatapnya dengan berbagai pertanyaan yang berlalu-lalang di kepalaku. Jika aku berada dalam kondisi yang normal, mungkin aku akan langsung marah dan meninggalkannya begitu saja. Namun, saat ini sepertinya rasa ketakutan akan rasa sunyi yang mencekam dan menyelimutiku lebih besar daripada sisi rasionalku.

Oleh sebab itu, maka tanpa pikir panjang lagi aku pun menyetujuinya. “Baiklah. Mau makan di mana?”

Anak laki-laki itu terkejut dengan aku yang menyetujuinya tanpa bertanya apa pun. Padahal dia sendiri yang mengajakku tadi. “Ah, anu, bagaimana kalau di tempat itu?” Dia menunjuk ke arah restoran yang cukup sepi di seberang jalan, dan menatapku dengan sedikit ragu.

Aku mengangguk dan bersiap untuk pergi. “Oke. Ayo kita ke sana.”

Dia tersenyum semringah mendengar ucapanku, seperti anjing yang baru saja diberikan makanan kesukaan oleh pemiliknya.

Pada akhirnya, kami memutuskan untuk makan bersama di restoran seberang jalan yang tidak terlalu ramai. Dua orang asing yang sama sekali tidak tahu antara satu sama lain ini akhirnya makan di tempat yang sama. Baru pertama kali dalam hidupku aku memutuskan sesuatu yang begitu sembrono, makan bersama dengan orang yang bahkan namanya saja aku tidak tahu.

Sesampainya di restoran, kami diam dan membisu dalam kecanggungan yang begitu tidak nyaman. Tidak ada yang berusaha untuk memecah kesunyian ini, dan aku sendiri tidak memiliki niatan untuk memulai percakapan karena bukan aku yang mengajaknya untuk makan bersama terlebih dahulu. Aku hanya memainkan ponselku dan dia hanya menatap daerah sekelilingnya.

Setelah terdiam selama beberapa menit, akhirnya laki-laki itu mengeluarkan suara.

“Maaf, kak, karena saya lancang dan mengajak makan secara tiba-tiba seperti ini.” Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan gelisah serta berkeringat. Baru pertama kali aku melihat lelaki yang seperti ini. Lucu.

“Kamu dari tadi minta maaf terus, ya? Tidak apa-apa kok. Lagian, aku sebenarnya juga merasa sedikit lapar.” Aku tersenyum tipis, sambil berusaha untuk mengikat rambutku menggunakan jepit rambut cokelat yang kuambil dari tas. Di restoran ini terasa sedikit panas, padahal saat aku bersama Rian tadi aku merasa cuaca malam ini cukup dingin.

Lelaki di depanku tersenyum lega karena sepertinya aku tidak marah. Dia berusaha untuk memecah keheningan lagi, dan aku tahu dia sepertinya sedang memikirkan pertanyaan apa yang pantas untuk diucapkan.

“Ngomong-ngomong, kakak usia berapa?” Dia tersenyum polos sambil bertanya dengan ceria, namun tangannya segera menutupi mulutnya karena tersadar akan bobot pertanyaannya yang begitu lancang. “Ah, maaf saya tidak sopan lagi!”

Melihat tingkahnya yang unik, aku sedikit tertawa. Entah mengapa, aku selalu ingin tertawa setiap melihat kekikukan lelaki muda dengan rambut ikal di depanku ini. Dia selalu mengucapkan sesuatu yang akan dia sesali beberapa detik kemudian.

“Haha, santai saja. Aku memang sepertinya lebih tua darimu.” Aku tertawa kecil sambil menatapnya, “Usiaku sekarang 31 tahun.”

Dia menghela napas lega karena tidak kutampar atas pertanyaannya yang begitu menyebalkan tadi. “Oh... Kalau saya 23 tahun kak. Saya baru pertama kali merantau di kota besar, jadi saya kebingungan dan tersesat karena tidak menemukan rumah paman saya.”

Pesanan yang kami pesan tadi akhirnya datang. Sambil membantu petugas restoran untuk menata pesanan kami, aku bertanya padanya, “Memangnya kamu tidak kuliah di kota lain?”

Aku baru menyadari bahwa pertanyaanku sedikit kurang sopan dan mengasumsikan seluruh anak muda sekarang pernah berkuliah. Namun, pertanyaan tersebut terlanjur keluar dari mulutku.

Dia sedikit ragu dan malu untuk menjawab. “Tidak, kak, saya tidak pernah kuliah. Sejak lahir hingga dewasa, saya hidup di kabupaten kecil yang mungkin kakak tidak pernah dengar namanya.”

Aku merasa bersalah sudah bertanya tentang hal-hal yang menyangkut kehidupan pribadinya.

“Maaf, pertanyaanku tadi terlalu tidak sopan, ya.”

“Tidak apa-apa kak, sejujurnya saya malah senang bisa berbincang-bincang seperti ini. Karena saya... sebenarnya tidak punya teman. Haha,” Dia tersenyum dengan canggung sambil meminum es menggunakan sedotan.

“Bagaimana bisa? Padahal kamu baik dan ramah. Wajahmu juga tampan.”

Wajahnya tersenyum semringah sambil menggaruk rambut bagian belakangnya dengan malu-malu. Matanya berbinar seolah dia tidak pernah mendengar orang lain memberikannya pujian apa pun.

“Ah, haha... terima kasih kak. Apakah saya memang tampan?”

Aku tersenyum. “Iya. Coba kamu lihat cermin, atau tanya orang lain. Pasti mereka akan bilang kamu tampan.”

“Haha... Selama ini, saya selalu dipanggil banci jadi saya kurang percaya jika ada orang yang bilang saya tampan.” Dia menunduk dan tersipu malu, namun aku tahu dia merasa begitu bahagia.

Aku mengernyitkan dahi mendengar jawabannya. Karena merasa sedikit penasaran,  aku bertanya, “Kenapa mereka memanggil kamu begitu?”

Dia menengadah menatap langit-langit restoran yang dipenuhi oleh hiasan kertas dan kipas angin yang rusak. “Entahlah, kak. Sejak kecil, saya katanya mirip perempuan karena wajah saya cantik. Saya juga tidak bisa olahraga seperti anak laki-laki lain. Katanya saya ini banci dan kurang laki. Saya sendiri tidak tahu apa itu yang namanya menjadi laki seperti yang dikatakan orang-orang.”

Dia tiba-tiba menceritakan hal-hal yang cukup berat, namun anehnya, wajahnya tenang sambil tersenyum. Namun, dia segera sadar tentang ucapannya yang lagi-lagi membuat suasana menjadi kurang nyaman.

“Ah, maaf kak! Saya malah cerita ke mana-mana.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Hei, santai saja. Jika kamu memang ingin bercerita, ceritakan saja. Rahasia apa pun yang kamu pendam akan kujaga karena kita adalah orang asing.

Raut matanya sedikit terkejut mendengar ucapanku yang menjaga batas antara kita berdua, namun kini wajahnya yang semula terlihat cukup ceria berubah menjadi diselimuti tatapan sendu.

“Baru pertama kali ini saya bisa bercerita tanpa dihujat oleh orang lain. Terima kasih, kak.”

“Sama-sama.” Aku menaruh kedua tanganku di dagu, sambil menatapnya dengan penuh saksama. “Cerita saja. Aku siap mendengarkan.”

Setelah hening selama beberapa menit dan menatap kedua mataku dengan ragu, akhirnya dia mulai membuka suara.

“Sejujurnya, saat saya menabrak kakak tadi, saya ditelepon ibu saya bahwa ayah saya meninggal. Sejak dulu, ibu dan saya selalu ditindas oleh orang-orang di sekitar kami di kampung. Mereka bilang ibu saya adalah pelacur, pelakor, dan saya adalah anak haram yang seharusnya tidak pernah lahir. Saya tidak ingat sama sekali tentang ayah saya. Dia tidak pernah mengunjungi kami sekalipun, dan hanya mengirim uang satu bulan sekali dengan syarat kami tidak boleh muncul di hadapannya. Namun, tadi ibu saya menelepon dan menangis tersedu-sedu saat memberitahu saya tentang kematiannya karena kecelakaan. Saya sama sekali tidak habis pikir, mengapa ibu saya bisa begitu sedih dengan orang yang sudah menghancurkan hidupnya dan membuatnya mendapatkan label buruk di masyarakat untuk selamanya?

“Saya sayang ibu saya, tapi jika kehadiran saya di hidupnya membuatnya sengsara, bukankah lebih baik saya tidak dilahirkan? Ibu bilang bahwa dia bukan pelakor, bahwa dia dan ayah saling jatuh cinta sebelum dia dijodohkan dengan orang lain. Akan tetapi, hal itu tidak berarti apa-apa jika tidak ada orang yang percaya dengan ibu saya. Bahkan ayah juga tidak pernah menganggap ibu saya ada. Saya sangat tidak tahan dengan cemoohan tetangga dan orang-orang di kampung. Gara-gara ayah hanya memberi uang yang pas-pasan, ibu terlilit banyak utang untuk membiayai sekolah saya padahal saya ke sekolah hanya untuk dipukuli. Uang yang dikirim oleh ayah saya sama sekali tidak ada harganya, dan saya sempat berpikir untuk balas dendam untuk mengekspos bahwa saya adalah anak haramnya.

“Dulu saya sempat berpikir untuk menjadi penjahat atau remaja kriminal demi membantu ibu saya melunasi utangnya yang menumpuk. Namun, pada akhirnya semuanya hanyalah impian yang hanya menjadi kenyataan di mimpi saya saat tidur saja. Ibu menyuruh saya untuk menjadi orang yang pemaaf dan tidak pendendam, karena suatu saat akan ada orang yang menyayangi saya sepenuh hati. Saya terkadang sedikit beruntung sejak kecil saya dirundung dan memiliki kepribadian yang penakut karena dengan begitu, saya tidak tumbuh menjadi seorang kriminal.”

Aku terdiam, sedikit tercengang mendengarkan kisah hidupnya yang begitu berat dan penuh liku hanya dalam waktu singkat.

Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jika Rian mendengarkan cerita ini, mungkin dia dapat mengeluarkan kata-kata motivasi yang sering dia kutip dari sosial media. Dia adalah pribadi yang emosional dan sensitif, pasti Rian tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi seperti ini.

Apa yang akan kamu katakan jika kamu menjadi aku?

Bayang-bayang Rian, dengan senyuman dan tingkahnya yang begitu ramah serta giginya yang tidak rata, mulai muncul di bayanganku karena dia pasti bisa memberikan motivasi kepada laki-laki ini dengan baik. Jika itu Rian, pasti dia bisa tahu apa yang ingin didengarkan oleh orang yang dia ajak berbicara. Seperti yang selama ini dia lakukan padaku.

Namun, aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan.

Oleh sebab itu, aku hanya bisa terdiam dan menunduk lalu menatap lelaki dengan hidup malang yang ada di hadapanku ini. Padahal tadi aku yang menawarkan diri untuk mendengarkan kisahnya, namun sekarang justru aku yang kebingungan dalam diam. Aku takut jika dia akan merasa tersinggung dengan apa yang aku ucapkan, atau justru dia nanti marah jika aku menunjukkan rasa simpatiku padanya.

Seolah menyadari apa yang ada di pikiranku, dia tersenyum, “Haha, berat ya, kak?

Aku tersenyum canggung, namun tanpa disangka dia justru melanjutkan kisahnya lagi. “Saya sama sekali tidak merasakan rasa sedih atau duka sedikit pun saat ayah saya meninggal. Saya berkata pada ibu saya, ‘Biarkan saja monster itu mati. Orang itu tidak pantas untuk ibu tangisi.’ Namun, ibu justru membentak saya lewat telepon dan mengatakan bahwa bagaimanapun saya adalah seorang anak, jadi jangan berkata seperti itu. Bahwa ayah tetap ayah kandung saya meskipun jutawan tua bangka itu tidak pernah menganggap saya sebagai anak selama hidupnya.”

Dengan penuh getir, dia menatap pemandangan jalanan yang kini perlahan-lahan mulai sepi dari kendaraan. “Apakah saya memang anak kurang ajar, ya, kak?”

Karena dia terlihat begitu sedih dan kehilangan rasa percaya dirinya, aku berpikir keras untuk menyusun kata-kata yang tepat demi menyanggah apa yang dia ucapkan. Aku segera menjawab, “Tentu tidak. Kamu adalah orang yang tegar, apa yang kamu rasakan itu valid karena ayahmu tidak pernah hadir dalam hidupmu. Dia memang tidak pantas untuk kamu tangisi, kok.”

Setelah mendengarkan jawabanku, dia tersenyum pilu. Perlahan-lahan, dia mulai tertawa terbahak-bahak, “Haha, terima kasih sudah mendukung saya, kak.”

Aku sedikit merasa lega bahwa jawabanku ternyata tidak terlalu buruk. Seharusnya, aku tidak terlalu bergantung pada bayang-bayang Rian. Ternyata, responsku tidak membuatnya marah, dan hal ini membuatku sedikit merasa percaya diri untuk mendengarkan serta memberikan respons terhadap ceritanya.

“Oh iya, kenapa tadi kakak menangis? Saya sudah menceritakan hidup saya yang sangat tidak jelas itu, sekarang giliran kakak, dong!” Dia tersenyum semringah dan berbinar-binar, seolah begitu menantikanku bercerita.

“Hmm..., “ Aku merasa cukup ragu dan enggan untuk bercerita karena sedikit malu. Lelaki ini sudah menceritakanku kisah hidup dan permasalahannya yang begitu kelam, sehingga aku merasa tidak nyaman jika turut bercerita. Karena masalahku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kisahnya tadi.

“Sebenarnya kisahku juga tidak terlalu jelas dan justru sangat monoton. Masih mau dengar?”

“Tentu!” Dia mengangguk antusias.

Aku sedikit berdeham, “Jadi ...” Secara perlahan-lahan, aku mulai bercerita. “Tadi, sebenarnya aku diputuskan oleh kekasihku.” Aku menatapnya, dan ternyata dia menatapku dengan pandangan yang begitu mendamaikan hati. Oleh sebab itu, maka aku berpikir mungkin tidak apa-apa jika aku juga menceritakan kisahku.

Untuk itu, aku melanjutkan ceritaku.

“Kami sudah berpacaran selama 8 tahun, sejak kami masih di bangku kuliah. Dia bilang dia jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Aku juga menyukainya, sehingga kami pun memutuskan untuk berpacaran. Sebenarnya tidak ada konflik yang berarti selama kita bersama. Setiap kita berbeda pandangan atau dia marah karena suatu hal, aku akan berusaha untuk meredam amarahnya serasional mungkin. Namun, mungkin karena cintanya padaku sudah menghilang atau karena aku juga sudah berubah, akhirnya dia jatuh cinta dengan orang lain. Dia bilang aku seperti robot yang tidak punya hobi dan tidak pernah bisa memahami apa yang kupikirkan.” Aku menunduk dan tertawa mengingat apa yang diucapkan oleh Rian.

“Mungkin dia benar, aku adalah orang yang jarang menunjukkan apa yang aku rasakan atau pikirkan pada orang lain. Aku tidak memiliki hobi, karena memang aku merasa malu untuk menceritakan hobiku padanya. Mungkin dia lupa jika dulu dia bilang bahwa hobiku tidak berguna, karena aku menghabiskan uang untuk idola dari negara asing yang tidak akan pernah tahu eksistensiku di dunia. Padahal aku hanya membeli album bekas yang kubeli dari orang lain dan harganya juga tidak mahal. Tapi, aku memakluminya karena dia memang tidak mengetahui apa-apa tentang hobi yang kusukai.

“Aku tidak menangis atau marah ketika tahu bahwa dia sudah berselingkuh, karena aku pikir dia berhak untuk jatuh cinta dengan orang lain dan aku tidak bisa mengatur perasaannya. Aku bahkan bisa meninggalkannya tanpa menangis setelah dicampakkan. Namun, entah mengapa pada saat perjalanan pulang tadi, aku merasa begitu takut... Karena kini, aku berada di kota yang begitu besar sendirian tanpa ada keluarga, kekasih, atau teman dekat yang bisa kuhubungi kapan saja. Rasa kesepian yang mendalam tiba-tiba membuatku tersadar bahwa sekarang aku memang benar-benar sendirian ...“

Keheningan mulai menyelimuti kami lagi, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri kisahku yang membosankan ini. Aku menatap lelaki di depanku yang masih menatapku dengan tatapan penuh kehangatan dan simpati. Karena aku merasa canggung dan tidak nyaman, aku akhirnya sedikit tertawa canggung, “Haha, apakah menurutmu ceritaku klise?”

Dia tersenyum seolah mengejek, “Iya, kak, hehe.”

Aku sedikit kaget dan mengerutkan alis saat mendengar jawabannya, meskipun aku tahu bahwa dia bercanda namun ternyata aku masih belum terbiasa dengan selera humornya yang tidak tertebak. Setelah melihat ekspresiku, dia segera melanjutkan ucapannya, “Ah, tapi saya paham dengan apa yang kakak rasakan. Pasti sedih harus berpisah dengan pacar yang sudah lama menemani kakak di kota ini.”

Dia menatap area luar restoran yang masih dilalui orang-orang meskipun sudah semakin malam. Tatapannya kembali sendu.

“Saat datang ke kota ini untuk pertama kali, saya kebingungan dan sangat linglung dengan segala hal karena baru kali ini saya berada di tempat yang benar-benar asing. Saya datang ke sini karena perintah ibu saya yang menyuruh saya bekerja bersama dengan kerabat jauh saya sebagai pembersih jendela gedung. Tapi, saat saya melihat begitu banyaknya gedung-gedung di sini, lutut saya kram dan merinding karena saya merasa begitu kecil. Seolah saya sama sekali tidak penting di kota ini.”

Aku mengangguk setuju, menyaksikan pemandangan gedung dan bangunan yang ada di luar bangunan. “Benar, kan? Kota ini sangat aneh. Saat berada di kampung, aku tidak merasa takut saat sendirian. Tapi di sini, jika kamu sendirian, rasanya seperti hidup sebagai kardus sampah yang ditaruh di tengah keramaian dan dilalui oleh orang-orang asing. Aku sangat takut, padahal umurku sudah mencapai tiga puluhan. Walaupun aku memiliki teman, namun mereka sibuk dengan urusannya masing-masing dan kita sangat jarang untuk bertemu. Aku pikir bahwa jika suatu saat aku mati di kos sendirian, mungkin tidak akan ada yang sadar.”

Kesunyian kembali datang setelah kami bercerita panjang lebar, tentang hidup kami masing-masing dan betapa menakutkannya rasa sepi yang menghantui kami.

“Kesepian memang menakutkan, ya, kak. Namun, aku bersyukur bisa bertemu dan berbincang dengan kakak. Setidaknya kita bisa berbagi kesepian, haha.”

Aku juga tersenyum mendengar dia yang merasa senang dengan pertemuan kami. Mungkin, kami berdua memang bertemu untuk saling berbagi rasa sepi.

“Benar. Aku senang kamu mendengarkan ceritaku tanpa memberiku nasihat atau apa pun. Terima kasih.”

“Aku juga, kak. Terima kasih tidak menganggapku aneh atau pengecut. Mungkin sekarang setiap aku melihat cermin aku jadi teringat kata-kata kakak, bahwa aku cantik dan tampan, haha!” Dia tertawa cukup lantang yang membuatku turut senang.

“Iya, benar. Banggalah dengan wajahmu. Jangan lupa untuk mandi karena sayang jika wajahmu kamu sembunyikan begitu. Percaya diri, ya!”

Dia menaruh tangannya di dekat dahi seolah sedang mengikuti upacara. “Siap, kak!”

Aku tertawa melihat tingkahnya yang begitu ekstra.

Kami segera memakan pesanan yang cukup mendingin karena kami tinggal bercerita panjang lebar. Tidak disangka, menu di restoran ini ternyata cukup enak dan mudah dijangkau. Entah mengapa aku sebelumnya tidak tertarik untuk mengunjungi restoran ini karena lokasinya yang berseberangan dengan arah kosku. Rian dulu juga berkata bahwa restoran ini tidak memiliki ulasan yang bagus, sehingga aku tidak terlalu tertarik untuk mengunjunginya.

Seperti pertemuanku dengan lelaki yang melahap ayam geprek dengan serius di depanku ini, mungkin dalam hidup memang beberapa hal terjadi di luar dugaan kita dan kita hanya tahu jika merasakannya sendiri.

Setelah kami menghabiskan makanan yang ada di atas meja, dia melirik jam tangannya, “Oh, sudah jam 10, kak. Mungkin kita harus pulang sekarang.”

Aku menatap jam dinding yang ada di restoran. Hampir seluruh pengunjung sudah pulang, dan kini hanya tersisa beberapa orang saja yang sibuk menatap layar ponselnya masing-masing. “Benar juga, kalau begitu ayo kita pergi sekarang.”

Kami pun membayar tagihan atas pesanan kami masing-masing, dan segera pergi dari restoran tersebut. Suasana sekitar jalanan ini semakin sunyi dan angin malam yang berhembus membuatku sedikit kedinginan, namun lampu terang di setiap sisi membuatku tidak merasa takut. Sosok lelaki muda yang berjalan di sampingku ini juga memberiku rasa aman yang membuatnya nyaman berjalan di dekatnya.

“Terima kasih sekali lagi, kak. Aku bisa makan enak dan mengeluarkan segala yang kupikirkan selama ini. Padahal kakak tidak tahu siapa aku, tapi aku merasa nyaman sekali.”

“Aku juga. Berkatmu, aku jadi tahu kalau bukan hanya aku yang takut merasa kesepian di kota ini.”

Aku menemaninya menunggu ojek daring di depan minimarket sambil berdiri dan terdiam. Meskipun aku sudah merasa nyaman dengannya, dia tetap laki-laki asing dan aku harus selalu waspada. Sebagai perempuan, aku merasa jengkel karena tidak pernah merasa nyaman sepenuhnya terhadap orang yang pertama kali kutemui dan harus berjalan ketakutan setiap malam hari. Oleh sebab itu, aku tidak memberitahunya bahwa kosku sebenarnya dekat dengan area ini.

“Kak ...”

Dia kembali memecah keheningan yang tidak pernah menghilangkan kami. Aku sedikit bingung karena ekspresinya yang tidak bisa kubaca.

“Ya?”

Dia terdiam di tempat, dan aku pun memutuskan untuk membiarkannya menjelaskan apa yang ingin dia katakan. Dengan sabar, aku menunggunya di tengah-tengah angin dingin yang menusuk tulang ini. Ojek yang dia pesan akan sampai sekitar lima menit lagi, dan sebenarnya aku masih memikirkan kata-kata perpisahan apa yang harus kukatakan padanya.

Dia menatapku dengan raut wajah yang penuh kesedihan, meskipun aku tidak terlalu jelas melihatnya karena dia berdiri di area yang tidak terkena lampu. Dengan nada aneh yang terdengar penuh kesenduan, dia bertanya, “Apa kakak bisa memelukku?”

Layaknya siapa pun yang mendengarkan permintaan ini dari orang asing, tentunya aku tersentak.

Aku sama sekali tidak mengira bahwa dia akan mengatakan hal tersebut. Sejujurnya, aku merasa sedikit takut dan khawatir karena ini adalah hal yang aneh untuk diucapkan, terlebih permintaan itu datang dari laki-laki asing yang kutemui beberapa jam lalu. Namun, sekali lagi aku tidak tahu apa yang merasukiku pada malam itu, aku memutuskan untuk menyetujui permintaannya.

Mungkin karena aku juga merasa membutuhkan pelukan, dari siapa pun itu. Pelukan hangat yang meyakinkanku bahwa aku telah berusaha, bahwa aku bukan perempuan aneh yang gagal menjadi manusia, bahwa hidupku akan baik-baik saja meskipun sendirian.

“Baiklah.”

Aku berkata sambil membuka kedua tanganku seolah menyambutnya. Biarkan saja suasana yang sangat canggung dan aneh ini menjadi cara kami untuk berpisah.

Dia terkejut mendengarku ucapanku, namun ekspresinya menatapku dengan senyuman hangat. Secara perlahan, dia berjalan menuju ke arahku dan aku mendengarkan langkah kakinya dengan jelas. Aku baru sadar bahwa ternyata dia cukup tinggi karena aku harus menengadah untuk menatap matanya. Dia mulai membuka tangannya dan mendekapku secara perlahan, dan aku bisa merasakan tangannya sedikit gemetar.

Kami berpelukan dengan penuh canggung dan kikuk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku tidak berani menatapnya dan hanya bisa menenggelamkan wajahku di tubuhnya sambil memeluk pinggangnya yang ramping. Dia ternyata memiliki aroma yang harum, seperti harum bunga melati yang menenangkan.

Setelah berpelukan selama beberapa detik, kami melepaskan diri sambil tersenyum canggung. Orang-orang yang melewati kami tidak terlalu memedulikan apa yang kami lakukan, mungkin karena mengira kami adalah pasangan kekasih yang sesungguhnya. Padahal kenyataan akan hubungan kami sangat berbeda.  

Bahkan, mungkin ini adalah kali terakhir aku bertemu dengannya.

Beberapa detik kemudian, ojek yang dia pesan sudah sampai dan menyelamatkan kami dari kesunyian yang mematikan dan penuh kecanggungan. Dia segera memakai helm yang diberikan oleh driver, lalu menatapku lagi sambil tersenyum.

Aku melambaikan tangan padanya. “Selamat tinggal. Hati-hati di jalan, ya.”

Dia tersenyum, dengan senyuman yang begitu indah dan mungkin tidak akan pernah kulupakan untuk selamanya seumur hidup.

“Sampai jumpa, kak.”

Lantas, dia pun pergi bersama driver ojek dan aku hanya berdiri menatap punggungnya yang semakin menghilang di tengah kegelapan malam.

Dan kini, aku sendirian lagi.

--------------------------------

Beberapa minggu setelah malam aku dicampakkan oleh Rian dan menghabiskan malam hari dengan laki-laki asing, aku bekerja seperti biasa. Segalanya berjalan seperti biasa, hidupku tidak berakhir meskipun segala ketakutan masih memenuhi kepalaku setiap malam hari. Rutinitas monoton dan membosankan kembali kujalani dengan semangat, namun hari ini adalah pengecualian dari rutinitasku yang datar.

Tidak ada hal aneh yang terjadi hari ini, kecuali ada pelanggan yang membeli buku tebal dan mahal namun dia marah karena mengira aku salah menghitung kembalian. Perasaanku begitu buruk karena aku tidak melakukan kesalahan apa pun namun dibentak-bentak serta dipermalukan di depan umum.

Aku pikir ini adalah salah satu hari paling buruk yang pernah kujalani. Namun, apa yang kupikirkan ternyata salah kaprah.

Beberapa jam setelah pelanggan menyebalkan tadi pulang dan aku dimarahi oleh atasanku, toko bukuku kembali tenang. Rasa tenang dan sunyi yang kusukai itu harus terpecah karena suara gemerincing bel tanda pelanggan baru yang datang terdengar keras. Aku berharap dalam hati bahwa pelanggan kali ini bukan pelanggan yang memakan energi dan kesabaranku yang semakin habis.

Akan tetapi, semakin aku mendengarkan suara gemerincing dan langkah kaki yang masuk ke dalam toko ini, aku merasa ada hal yang berbeda. Aku menengadah dan menatap pintu masuk, menyaksikan pelanggan yang datang sendirian itu dengan sedikit kikuk.

Melihat figur tersebut dan tingkahnya yang cukup familier, mataku sedikit terbelalak.

Rasanya hatiku ingin meledak karena rasa kaget dan bahagia, namun sayangnya aku harus profesional dan menjaga ekspresi jika tidak ingin dipecat. Dia menggunakan parfum melati yang harumnya begitu menyengat dari kejauhan, namun aku tidak membenci itu karena aroma yang dia keluarkan dapat membuatku merasa damai.

Lelaki berjaket biru tua itu masuk ke dalam toko, lantas melihat-lihat kondisi sekitar hingga tatapannya bertemu dengan mataku.

Ah, ternyata benar dia.

Setelah menyadari siapa penjaga toko buku ini, dia langsung berjalan menuju ke arahku dengan bergegas. Aku menyambutnya sambil tersenyum dengan semringah, “Selamat datang di Toko Buku Jelita!”

Dengan senyuman indah yang sama seperti apa yang aku lihat beberapa minggu lalu, dia berkata, “Saya mau mencari buku tentang resep masakan, kak.”

Pada akhirnya, kita memang benar-benar berjumpa lagi, ya, Laki-laki Tanpa Nama

Komentar

Postingan Populer