karam

 

Source: Freepik

Yuni, ibu rumah tangga yang hari demi hari merasa bahwa kewarasannya semakin terkikis. Ketika dia tidak sengaja melakukan pembunuhan, seberapa jauh hal yang akan Yuni lakukan untuk melindungi keluarganya?

PART 1

YUNI

Terkadang, ada masa di mana aku berharap bahwa anak dan suamiku mati.

Entah itu mati secara mendadak atau menghilang karena diculik oleh penjahat kelas kakap, aku hanya berharap mereka menghilang dari hadapanku selama sejenak.

Sudah tiga belas tahun aku tinggal di dalam rumah ini, tempat yang semula kukira akan menjadi jalanku menuju kebahagiaan dan terbebas dari belenggu kemiskinan yang menghantuiku sejak kecil. Namun, rumah indah ini justru membuatku tenggelam dalam kegelapan yang semakin dalam tak berujung.

Setiap aku melihat wajah suami dan anakku, aku berharap mereka segera pergi tanpa kembali. Saat aku melihat mereka hanya duduk diam bermain gawai di kursi ketika aku harus mencuci baju dan masak, aku berharap atap rumah kami roboh dan menimbun mereka. Saat aku mendengar mereka menyuruhku ini itu dan komplain karena apa yang kulakukan selalu terasa tidak tepat, aku berharap tubuhku meledak di hadapan mereka sehingga kematianku dapat menghantui mereka selamanya.

Pikiran-pikiran buruk senantiasa menghantuiku setiap melihat mereka. Dan setiap pikiran buruk itu muncul, aku akan merasa jijik terhadap diriku sendiri karena manusia dan perempuan yang normal pasti tidak akan pernah memikirkan hal-hal seperti itu.

Aku mungkin sudah hampir gila.

Saat pertama kali aku menikah dengan suamiku, semuanya terasa begitu magis layaknya surga utopis yang membuatku berpikir bahwa aku adalah tokoh utama dongeng putri-putri yang sering kutonton saat aku masih kecil. Suamiku, Haryadi, pebisnis sukses tampan yang lebih tua sepuluh tahun dariku adalah sosok pangeran yang selalu kuidamkan; lelaki yang akan menggenggam tanganku untuk bangkit dari lautan kepedihan karena keluargaku yang miskin.

Aku pikir aku telah menemukan sosok pangeran yang akan selalu mencintaiku dan memberiku kebahagiaan yang abadi.

Akan tetapi, pada kenyataannya fantasi layaknya dongeng itu hanya bertahan sejenak dan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan.

Kapan semuanya mulai terasa salah?

Aku sendiri tidak tahu.

Satu hal yang aku tahu, suamiku mulai berubah setelah aku melahirkan Edwin, anak kami satu-satunya. Setelah segala perjuangan dan rasa sakit luar biasa yang harus kulalui untuk melahirkan buah hati kami, aku pikir suamiku akan semakin memberikanku kasih sayang yang melimpah. Akan tetapi, berbeda dengan apa yang kuharapkan, Haryadi perlahan-lahan mulai berubah.

Meskipun dia tidak pernah mengutarakan dengan jelas, namun aku tahu bahwa tubuhku yang tidak fit seperti ketika kami berpacaran dulu membuatnya enggan untuk menyentuhku lagi. Terbukti dari tatapan datarnya setiap aku menginginkannya untuk tidur bersama.

Mungkin itu pula alasannya memilih untuk berselingkuh secara diam-diam dengan anak SMA yang dia temui melalui media sosial. Ketika pertama kali mengetahui fakta ini, aku ingin membunuhnya menggunakan parang.

Namun, itu hanya berakhir menjadi imajinasi saja karena aku terlalu takut kehilangan hidupku yang sudah mapan. Membayangkan diriku kembali terlilit oleh kemiskinan seperti ketika aku masih kecil membuatku mengubur imajinasi itu ke sudut terdalam otakku.

Hal yang bisa kulakukan hanyalah memendam amarah yang menggunung dan menahan rasa mual yang sering kurasakan setiap suamiku berada di dekatku.

Dasar pedofil laknat.

Aku hanya dapat mengumpat dalam hati dan tidak berani mencercanya secara langsung karena bagaimanapun juga, dia adalah orang yang menguasai rumah dan keluarga ini. Tidak ada yang bisa kulakukan karena aku tidak memiliki pekerjaan atau uang yang bisa membuatku menceraikannya.

“Bu, kenapa sop ayam ini asin sekali? Ibu tadi masaknya bagaimana, sih?” Edwin bertanya sambil menatap nasi di piringnya dengan jijik. Meskipun dia baru saja masuk SMP, namun sepertinya dia sudah mulai meniru sifat mengatur seperti yang sering ditunjukkan oleh suamiku.

“Maaf, sepertinya ibu salah saat memasukkan garam tadi. Kamu makan ayam goreng saja, Win. Tidak usah dihabiskan, nanti biar ibu yang makan sopnya,” Aku menatapnya sebentar, lantas menjawab dengan nada datar sambil mencuci piring. Edwin hanya mendengus kesal dan mengambil piring baru untuk memakan ayam goreng.

Perutku sebenarnya sudah meronta-ronta karena lapar, namun sayangnya aku masih harus membersihkan piring-piring yang kotor pada malam ini. Entah sudah berapa menit aku berdiri mencuci perkakas dapur yang menumpuk.

Suamiku tidak mengucapkan apa-apa, hanya diam memakan sop ayam yang kumasak tanpa berkata sepatah kata pun sambil menatap gawainya dengan sangat fokus. Orang awam yang melihat mungkin mengira dia membaca berita penting di gawainya dan merupakan suami idaman karena tidak protes atas masakanku yang tidak enak.

Namun, aku yakin dia hanya membuka media sosial untuk berkonsentrasi agar dia bisa berkomunikasi dengan gadis-gadis berusia belia yang nanti akan menjadi mangsanya.

Menggelikan.

Aku menyelesaikan tugasku dan segera duduk di kursi meja makan untuk menghabiskan sop ayam yang tidak disukai Edwin. Hari-hari yang monoton di dalam rumah yang menyesakkan ini membuatku tercekik, namun sedikit demi sedikit aku semakin terbiasa dengan hal ini.

Menjadi orang yang tidak memiliki kekuatan ternyata akan membuat seseorang kehilangan hasrat untuk melawan, itulah yang selalu kuratapi setiap malam.

Seperti biasa, meja makan pada malam ini terasa sunyi karena tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Anak dan suamiku sibuk menatap layar ponsel mereka, sementara aku menghabiskan sop ayam asin yang kumasak sendiri sambil mengutuk mereka dalam hati. Meskipun kami sudah hidup sebagai keluarga selama lebih dari satu dekade, akan tetapi rasanya hanya aku saja yang merasa mual dengan segala hal yang ada di rumah ini.

Ketenangan dan kesunyian ini tidak membuatku merasa nyaman sama sekali.

Sebelum keheningan membuatku kembali memikirkan pikiran-pikiran buruk, imajinasi liarku untungnya terdistraksi oleh bunyi ketukan pintu dari luar. Karena ini sudah malam dan jarang sekali orang yang mengunjungi rumah kami, aku tahu persis siapa orang yang datang.

Siapa lagi kalau bukan Ari, saudara suamiku yang juga sama-sama brengsek dan tidak berguna dan selalu mengganggu malam hari kami?

Mungkin menjadi lelaki parasit dan merendahkan orang lain sudah menjadi penyakit genetik yang mendarah daging dalam keluarga Haryadi.

Dengan enggan, akhirnya aku bangkit dari kursi untuk mempersilahkannya masuk ke dalam rumah. Seperti yang sudah-sudah, Ari datang dengan kondisi setengah mabuk dan bau miras tercium dengan jelas dari mulutnya.

“Halo, Kak Yuni! Malam kak, permisi ya.” Tanpa menunggu ucapanku, Ari langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa depan televisi sambil tetap mengenakan sepatunya yang kotor oleh lumpur.

 Aku sudah tidak memiliki rasa kesal lagi karena ini adalah pemandangan yang sudah terlalu biasa. Amarahku pasti akan sia-sia jika memarahinya karena dia mabuk dan tidak sadar akan apa yang dia lakukan.

“Mas Adi, punya apel, gak? Pusing banget aku, pengen makan buah.”

Ari menatap Haryadi yang langsung menghela napas kesal seolah merasa terganggu dengan kehadiran adiknya. Padahal dia sendiri yang sejak dulu mengizinkan adiknya untuk menggunakan rumah kami sebagai rumah keduanya karena mereka sudah tidak memiliki orang tua.

Namun, kedua saudara ini sepertinya tidak sadar bahwa akulah yang paling dirugikan dengan persaudaraan mereka yang erat.

“Dek, kamu kasih saja apel yang tadi pagi kubeli. Aku taruh di kulkas tadi.” Haryadi menyuruhku tanpa menatapku dan langsung kembali memainkan ponselnya.

Dengan kesal, akhirnya aku membuka kulkas untuk mencari apel merah yang dibelikannya tadi pagi. Lantas, aku mengambil pisau untuk mengupas kulit apel setelah mencucinya hingga bersih.

Ari melihatku dan berjalan untuk duduk di kursi meja makan sambil sempoyongan.

“Kak Yuni, kamu kok tambah kelihatan tua, sih?”

Tak.

Suara pisau yang mengenai talenan kayu terdengar jelas karena aku memotong apel dengan keras. Sebisa mungkin aku menahan rasa kesal dan bersikap seperti biasa karena tidak ingin menghabiskan tenagaku untuk bertengkar dengan Ari.

“Ya iyalah, om. Ibu kan sudah tua,” Edwin menjawab dengan kesal. Selain aku, mungkin hanya Edwin yang juga merasa terganggu dengan kebiasaan Ari yang selalu mendatangi rumah kami ketika mabuk.

“Iya sih, tapi jadi wanita kan tetap harus jaga diri. Kak Yuni, nanti masku selingkuh, lho, kalo kamu tidak menjaga tubuh dan penampilan kamu.” Ari tertawa sambil menyindir kakaknya sendiri.

Dia tidak tahu bahwa ucapan bodohnya itu sudah terjadi.

“Aku tidak punya waktu untuk olahraga karena harus mengurus ini itu. Lagi pula, gym itu mahal. Aku tidak suka pergi ke sana, apalagi sendirian,” ucapku berusaha untuk membela diri.

“Ah, masa, sih kak? Padahal setahuku gym itu murah. Tapi iya sih, di sana kebanyakan cewek-cewek yang muda dan bodinya montok. Pasti kakak bakal malu banget kalo ke sana, hahaha!” Ari tertawa terbahak-bahak hingga hampir terjatuh dari kursi.

Aku hanya terdiam mendengar ejekan Ari sambil memegang gagang pisau dengan erat. Hal ini sudah terlalu sering dia lakukan setiap dia datang ke rumah kami.

Entah apa yang sudah kulakukan padanya, namun di matanya sepertinya aku adalah perempuan yang tidak pantas untuk menjadi istri Haryadi.

Sikapnya membuatku merasa jijik karena ketika dia sudah sadar, dia akan mengucapkan permintaan maaf padaku karena sudah mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Namun, aku tahu bahwa sisinya yang sebenarnya hanya akan muncul ketika dia mabuk dan mengejekku tanpa provokasi.

Meskipun begitu, aku tidak boleh marah.

Berkali-kali aku menanamkan hal tersebut dalam otakku.

“Tahu, gak, Kak Yuni? Masku ini juga ketemu cewek-cewek cantik di gym, lho. Kakak, sih, tidak bisa jaga suami dengan baik. Jadinya masku selingkuh, kan.” Ari tersenyum menyeringai sambil menatap kakaknya dengan tatapan mengejek.

Haryadi yang semula fokus dengan ponselnya mulai terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Ari. Dia menatapku dengan sedikit panik, namun pandangannya langsung beralih pada Ari. “Hei, diam kamu! Jangan bicara melantur! Siapa yang selingkuh!?”

Aku tetap diam dan fokus untuk memotong apel dan menaruhnya ke dalam piring agar terlihat rapi.

Tahan amarahmu.

“Hahaha. Wanita itu kalau semakin berumur bakal semakin kendur, kak. Jadi jangan salahkan masku kalau dia tidur dengan wanita lain. Lagian, kakak sendiri sudah tidak berbentuk begitu. Harusnya kakak bersyukur bisa menikah dengan masku, sebab karena masku, kakak akhirnya tidak jadi pelacur miskin yang menjual diri, kan?”

Sialan.

Ari tetap terus mencerocos tak keruan meskipun Haryadi sudah memarahinya. Edwin sendiri hanya terdiam kesal mendengar keributan yang terjadi.

Ah, aku benar-benar sudah lelah dengan semuanya.

Seberapa keras pun aku mencoba, ternyata aku tidak bisa menahan amarahku lagi.

Sudah ratusan kali aku mendengarkan ucapan merendahkan dari Ari, anak ingusan manja yang sama sekali tidak tahu apa yang aku rasakan dan alami selama ini. Dan sepertinya, malam ini aku sudah merasakan kesabaranku berada di ujung tanduk dan tak terbendung lagi.

Bagaimana mungkin lelaki pecundang yang hanya menjadi parasit keluarga ini memiliki hak untuk menceramahiku?

Satu-satunya hal yang kupikirkan pada saat ini adalah: aku ingin membunuhnya.

Tidak ada lagi hal lain yang menyelimuti otakku kecuali amarah yang membuat jantungku terasa sesak seperti diperas oleh mesin pemeras kain. Tanganku menggenggam gagang pisau semakin erat, dan aku tidak bisa lagi mendengar apa pun yang diucapkan Ari setelahnya.

Suasana yang menegangkan tadi menjadi sunyi dalam sekejap di telingaku.

Penglihatanku terasa gelap, seakan-akan aku pindah ke dunia lain yang hanya dipenuhi warna hitam di sekeliling.

Ternyata ini rasanya ketika amarah yang selama ini kusembunyikan di dalam sudut otakku yang terdalam mulai muncul dalam waktu yang bersamaan.

Aku tidak tahan lagi.

Dan sejak detik itu, tragedi pun dimulai.

Tanpa sadar, aku mengayunkan pisau dan melemparkannya menuju ke arah Ari. Aku melemparkannya secara refleks tanpa memikirkan hal apa pun, dan sedetik kemudian pisau itu tidak ada di tanganku lagi.

“AH! IBU!”

Teriakan Edwin membuatku tersentak dan tersadar dengan cepat untuk mencerna apa saja yang baru saja terjadi.

Dalam sekejap, suasana malam yang seharusnya berjalan damai dan membosankan berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Pisau yang kulemparkan secara refleks tanpa pikir panjang membuat malam ini berubah menjadi kejadian yang akan menghantui kami seumur hidup.

Benda tajam yang semula berada di tanganku tadi kini tertancap di kepala Ari, menusuk bagian lehernya. Ari hanya bisa merintih dan tersungkur tak berdaya, lantas mulutnya terbuka selama beberapa detik sambil mengeluarkan air mata. Darah merah pekat mulai mengucur dengan begitu deras dari lehernya, sementara kami bertiga hanya dapat membeku sambil merinding ketakutan tanpa bisa melakukan apa pun.

Hanya dalam beberapa detik, Ari tergeletak tak berdaya di lantai dan tidak ada suara apa pun yang terdengar lagi. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ari masih hidup atau pun bergerak.

Sepertinya, Ari benar-benar sudah mati.

Hal gila apa yang baru saja kulakukan?

Tanganku gemetar dengan hebat dan keringat dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Napasku tersengal-sengal, menyaksikan Ari mati dan menghembuskan napasnya secara perlahan-lahan membuatku terpaku dan tak sanggup untuk menggerakkan otot tubuhku sedikit pun. Edwin menangis ketakutan dan langsung berlari memeluk Haryadi yang juga hanya bisa terdiam sambil menganga.

Kami terpaku menatap Ari selama beberapa detik, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. Haryadi menenangkan Edwin yang menangis histeris, dan aku menatap mereka dengan jantung berdegup kencang.

Aku adalah ibu tidak waras yang membuat anaknya yang masih SMP memiliki trauma dengan membuatnya menyaksikan pamannya terbunuh tepat di depan matanya sendiri.

Setelah beberapa saat kami terdiam menyaksikan kematian Ari, Haryadi langsung berteriak sambil menangis dan menjambak rambutku. Tangannya mengepal dan mulai melayangkannya pada hidungku. “APA KAMU GILA?! APA YANG BARUSAN KAMU LAKUKAN?!”

Satu kali pukulan, aku tidak merasakannya. Lalu dua kali, tiga kali, entah berapa kali suamiku menampar dan memukuli kepalaku. Aku tidak ingat karena tamparannya begitu keras hingga aku terhuyung menabrak tembok dapur yang ada di belakangku. Darah mulai keluar dari hidungku dan pandanganku mulai kabur.

Anehnya, aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit.

Lebih tepatnya, aku tidak boleh merasakan rasa sakit karena ini adalah tragedi yang terjadi karena kesalahanku sendiri. Tanganku menyentuh wajahku yang panas dan memar karena tamparan suamiku, dan air mata mulai mengucur.

Aku tidak sanggup melihat mata Haryadi atau pun Ari yang berbaring di atas lantai. “Mas... A-apa yang harus kulakukan?”

Dengan terbata-bata dan tangisan yang menahan tenggorokanku, aku bertanya pada Haryadi yang masih begitu marah. Tatapanku kembali menyaksikan Ari yang sudah menjadi mayat, padahal beberapa menit lalu dia masih duduk di kursi sambil menghinaku tanpa henti.

Untuk pertama kalinya, aku berharap tetap mendengarkan berbagai hinaan yang Ari lontarkan karena itu adalah hal yang lebih baik daripada kenyataan bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang pembunuh.

Keheningan mulai menyelimuti kami, dan bau amis darah Ari semakin menyengat. Edwin tidak bisa berhenti gemetar ketakutan, tangannya tetap memeluk suamiku dan tidak sanggup melihat pamannya yang mati. Haryadi hanya bisa diam dan mulai memikirkan sesuatu.

Aku tidak bisa memikirkan apa pun, selain duduk tersungkur dengan wajah lebam serta tatapan mata yang tertuju pada darah merah pekat yang memenuhi lantai ruang makan ini.

Skenario pembunuhan yang sering aku bayangkan di dalam mimpiku sekarang sudah menjadi kenyataan, namun orang yang kubunuh bahkan bukan target yang sering muncul di mimpiku. Benar-benar kenyataan yang mengerikan.

“Dek.”

Setelah hening yang cukup lama, Haryadi meminta Edwin pergi tidur ke kamarnya karena ingin berbicara denganku. Edwin menurut karena sudah lelah menangis, lantas Haryadi memanggilku dan menyuruhku untuk duduk di kursi. Aku bahkan tidak sempat memikirkan cara untuk menenangkan Edwin sedikit pun.

Dengan lemah, aku berusaha untuk bangkit dan mengikuti perkataan Haryadi. Tubuh dan pikiranku terasa remuk dalam sekejap, seolah-olah otakku terbentur oleh beton dan tidak bisa kugunakan lagi untuk berpikir.

Selama beberapa saat, Haryadi menatapku dengan saksama. Matanya tajam dan menusuk, membuat wajahnya yang tampan menjadi tampak seolah ingin membunuhku dengan keji dalam seketika. Akan tetapi, tanpa disangka tangannya justru mulai menyentuh dan menggenggam kedua tanganku yang masih gemetar dengan lembut. Lantas, dia mulai berbicara.

“Kita buat Ari menghilang saja. Aku yang akan mengubur mayatnya di belakang rumah, nanti kita buat seolah-olah dia pergi ke luar kota setelah mengunjungi rumah kita. Tidak ada CCTV di daerah kita, jadi pasti tidak ada yang tahu kalau dia mengunjungi kita. Si Ari juga tidak punya teman. Aku yakin tidak akan ada yang akan mencarinya. Besok kita yakinkan Edwin untuk tidak membocorkan hal ini, dan pastikan kamu juga tutup mulut.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk mencerna perkataan yang keluar dari mulut Haryadi. Setiap kata yang dia ucapkan terasa dingin hingga membuatku merinding.

Aku menganga menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin dia memperlakukan mayat adiknya sendiri seperti ini?

“M-mas... Apa benar kita tidak usah lapor polisi? Aku harus menyerahkan diriku. A-aku—” Tanganku kembali gemetar dan keringat dingin mulai keluar dari telapak tanganku. “Aku tidak tahan jika harus hidup begitu. Aku sudah membunuh orang, mas. A-aku sudah m-membunuh adikmu sendiri.”

Haryadi mengerutkan keningnya dan menamparku lagi. Rambutku sudah tidak terlihat seperti rambut manusia karena tamparan suamiku yang begitu keras hingga membuat telingaku berdengung.

“Kamu bodoh ya?! Memangnya kamu pikir kamu mau karier, reputasi, dan hidupku hancur semuanya? Kamu mau Edwin ditindas teman-temannya karena memiliki ibu pembunuh? Kamu pikir aku mau menghancurkan hidupku demi istri gila sepertimu dan adik bodoh tukang mabuk yang menyusahkan itu?!”

Suamiku berteriak, dengan nada tinggi yang kudengar untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu dekade hidup dengannya. Otot di lehernya tampak terlihat jelas, yang menjadi tanda bahwa dia memang sangat marah.

Namun, dia langsung tersadar akan suaranya yang terlalu keras, sehingga dia mencoba mengatur napas seolah berusaha menahan amarahnya.

Aku hanya bisa terdiam dan menahan air mata yang kembali menggenang. Kenyataan bahwa bahkan ketika berada di situasi seperti ini pun, suamiku hanya mementingkan dirinya sendiri dan bukan aku, membuatku kembali tersadar bahwa eksistensiku tidak memiliki arti apa-apa di matanya.

Namun, tidak ada yang bisa lakukan. Semua ini memang terjadi karena kesalahanku yang tidak akan terampuni untuk selamanya.

Aku menunduk dan menatap lantai rumah kami, dan aku baru menyadari bahwa lantai marmer rumah kami memang begitu indah.

Benar. Seluruh sudut rumah dan perabotan, bahkan lantai rumah ini semuanya adalah hal yang dipasang menggunakan uang suamiku. Di antara masyarakat sekitar rumah kami, Haryadi adalah sosok pebisnis muda yang sempurna; selalu bersedekah, menyayangi keluarga, karier yang cemerlang, dan senantiasa ramah terhadap tetangga.

Jika aku mengotori nama baiknya di masyarakat, maka tidak akan ada tempat lagi bagi kita bertiga. Apa yang akan Edwin lalui jika dia dikenal sebagai anak seorang ibu pembunuh?

Pikiran tersebut mulai menghantuiku.

Pada akhirnya, aku mengangguk pelan. “B-baik, mas. Aku tidak akan lapor pada siapa pun...”

Dan begitulah kehidupan kami mulai berubah.

Malam itu, kami berdua menjalani tugas masing-masing seperti yang sudah kami sepakati. Suamiku menggotong mayat adiknya sambil memakai sarung tangan dan masker. Meskipun dia terlihat kuat dan tegar, matanya tak berhenti mengeluarkan air mata.

Baru kali ini aku merasa pilu melihat suamiku yang aku benci.

Siapa pun pasti akan merasa tersayat hatinya jika harus memakamkan keluarga terdekatnya sendiri. Terlebih jika keluarganya harus dimakamkan tanpa pemakaman yang layak. Terlebih ketika keluarganya itu dibunuh oleh istrinya sendiri.

Selagi suamiku sibuk menggali lubang di belakang rumah kami, aku sibuk membersihkan bekas darah Ari yang tadi menempeli lantai. Seluruh bagian ruang makan harus kubersihkan tanpa ada celah yang tersisa, mulai dari bagian bawah meja hingga sudut-sudut tak terlihat yang sering kuabaikan.

Aku tidak boleh meninggalkan jejak apa pun, demi suami dan anakku.

Benarkah ini semua kulakukan demi mereka?

Aku tidak bisa berhenti sesenggukan. Beruntung, kejadian ini terjadi ketika tetangga di sekitar rumah kami kebanyakan sedang keluar rumah karena ada hajatan di desa sebelah. Tidak akan ada yang tahu bahwa terjadi pembunuhan di dalam rumah kami, dan mereka juga tidak akan tahu bahwa Haryadi sekarang memakamkan adiknya sendiri di halaman belakang.

Setelah aku dan Haryadi menyelesaikan hal-hal yang harus kami lakukan, kami membersihkan diri dan tidur di kamar kami. Kami tidak mengucapkan kata-kata apa pun. Seolah tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi pada malam ini.

Benar, ini semua akan baik-baik saja.

Tidak ada yang tahu, dan selamanya aku akan menutup mulutku bahkan hingga kematian menjemputku.

Tidak apa-apa, aku tidak akan masuk penjara.

Semuanya akan baik-baik saja.

Esok, semuanya akan kembali seperti semula.

Malam itu, aku tertidur sambil memikirkan berbagai siksaan seperti apa yang akan menantiku di neraka.

(Also posted this on Medium)

Komentar

Postingan Populer