karam
Source: Freepik
Yuni, ibu rumah tangga yang hari demi hari merasa bahwa kewarasannya semakin terkikis. Ketika dia tidak sengaja melakukan pembunuhan, seberapa jauh hal yang akan Yuni lakukan untuk melindungi keluarganya?
PART 1
YUNI
Terkadang,
ada masa di mana aku berharap bahwa anak dan suamiku mati.
Entah itu
mati secara mendadak atau menghilang karena diculik oleh penjahat kelas kakap,
aku hanya berharap mereka menghilang dari hadapanku selama sejenak.
Sudah tiga
belas tahun aku tinggal di dalam rumah ini, tempat yang semula kukira akan
menjadi jalanku menuju kebahagiaan dan terbebas dari belenggu kemiskinan yang
menghantuiku sejak kecil. Namun, rumah indah ini justru membuatku tenggelam
dalam kegelapan yang semakin dalam tak berujung.
Setiap aku
melihat wajah suami dan anakku, aku berharap mereka segera pergi tanpa kembali.
Saat aku melihat mereka hanya duduk diam bermain gawai di kursi ketika aku
harus mencuci baju dan masak, aku berharap atap rumah kami roboh dan menimbun
mereka. Saat aku mendengar mereka menyuruhku ini itu dan komplain karena apa
yang kulakukan selalu terasa tidak tepat, aku berharap tubuhku meledak di
hadapan mereka sehingga kematianku dapat menghantui mereka selamanya.
Pikiran-pikiran
buruk senantiasa menghantuiku setiap melihat mereka. Dan setiap pikiran buruk
itu muncul, aku akan merasa jijik terhadap diriku sendiri karena manusia dan
perempuan yang normal pasti tidak akan pernah memikirkan hal-hal seperti itu.
Aku mungkin
sudah hampir gila.
Saat pertama
kali aku menikah dengan suamiku, semuanya terasa begitu magis layaknya surga
utopis yang membuatku berpikir bahwa aku adalah tokoh utama dongeng putri-putri
yang sering kutonton saat aku masih kecil. Suamiku, Haryadi, pebisnis sukses
tampan yang lebih tua sepuluh tahun dariku adalah sosok pangeran yang selalu
kuidamkan; lelaki yang akan menggenggam tanganku untuk bangkit dari lautan kepedihan
karena keluargaku yang miskin.
Aku pikir
aku telah menemukan sosok pangeran yang akan selalu mencintaiku dan memberiku
kebahagiaan yang abadi.
Akan tetapi,
pada kenyataannya fantasi layaknya dongeng itu hanya bertahan sejenak dan
berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan.
Kapan
semuanya mulai terasa salah?
Aku sendiri
tidak tahu.
Satu hal
yang aku tahu, suamiku mulai berubah setelah aku melahirkan Edwin, anak kami
satu-satunya. Setelah segala perjuangan dan rasa sakit luar biasa yang harus
kulalui untuk melahirkan buah hati kami, aku pikir suamiku akan semakin memberikanku
kasih sayang yang melimpah. Akan tetapi, berbeda dengan apa yang kuharapkan, Haryadi
perlahan-lahan mulai berubah.
Meskipun dia
tidak pernah mengutarakan dengan jelas, namun aku tahu bahwa tubuhku yang tidak
fit seperti ketika kami berpacaran dulu membuatnya enggan untuk menyentuhku
lagi. Terbukti dari tatapan datarnya setiap aku menginginkannya untuk tidur
bersama.
Mungkin itu
pula alasannya memilih untuk berselingkuh secara diam-diam dengan anak SMA yang
dia temui melalui media sosial. Ketika pertama kali mengetahui fakta ini, aku
ingin membunuhnya menggunakan parang.
Namun, itu
hanya berakhir menjadi imajinasi saja karena aku terlalu takut kehilangan hidupku
yang sudah mapan. Membayangkan diriku kembali terlilit oleh kemiskinan seperti
ketika aku masih kecil membuatku mengubur imajinasi itu ke sudut terdalam
otakku.
Hal yang
bisa kulakukan hanyalah memendam amarah yang menggunung dan menahan rasa mual
yang sering kurasakan setiap suamiku berada di dekatku.
Dasar
pedofil laknat.
Aku hanya
dapat mengumpat dalam hati dan tidak berani mencercanya secara langsung karena bagaimanapun
juga, dia adalah orang yang menguasai rumah dan keluarga ini. Tidak ada yang
bisa kulakukan karena aku tidak memiliki pekerjaan atau uang yang bisa
membuatku menceraikannya.
“Bu, kenapa sop
ayam ini asin sekali? Ibu tadi masaknya bagaimana, sih?” Edwin bertanya sambil
menatap nasi di piringnya dengan jijik. Meskipun dia baru saja masuk SMP, namun
sepertinya dia sudah mulai meniru sifat mengatur seperti yang sering ditunjukkan
oleh suamiku.
“Maaf,
sepertinya ibu salah saat memasukkan garam tadi. Kamu makan ayam goreng saja,
Win. Tidak usah dihabiskan, nanti biar ibu yang makan sopnya,” Aku menatapnya
sebentar, lantas menjawab dengan nada datar sambil mencuci piring. Edwin hanya
mendengus kesal dan mengambil piring baru untuk memakan ayam goreng.
Perutku
sebenarnya sudah meronta-ronta karena lapar, namun sayangnya aku masih harus
membersihkan piring-piring yang kotor pada malam ini. Entah sudah berapa menit
aku berdiri mencuci perkakas dapur yang menumpuk.
Suamiku tidak
mengucapkan apa-apa, hanya diam memakan sop ayam yang kumasak tanpa berkata
sepatah kata pun sambil menatap gawainya dengan sangat fokus. Orang awam yang
melihat mungkin mengira dia membaca berita penting di gawainya dan merupakan
suami idaman karena tidak protes atas masakanku yang tidak enak.
Namun, aku
yakin dia hanya membuka media sosial untuk berkonsentrasi agar dia bisa
berkomunikasi dengan gadis-gadis berusia belia yang nanti akan menjadi
mangsanya.
Menggelikan.
Aku
menyelesaikan tugasku dan segera duduk di kursi meja makan untuk menghabiskan sop
ayam yang tidak disukai Edwin. Hari-hari yang monoton di dalam rumah yang
menyesakkan ini membuatku tercekik, namun sedikit demi sedikit aku semakin
terbiasa dengan hal ini.
Menjadi
orang yang tidak memiliki kekuatan ternyata akan membuat seseorang kehilangan
hasrat untuk melawan, itulah yang selalu kuratapi setiap malam.
Seperti
biasa, meja makan pada malam ini terasa sunyi karena tidak ada satu pun dari
kami yang berbicara. Anak dan suamiku sibuk menatap layar ponsel mereka,
sementara aku menghabiskan sop ayam asin yang kumasak sendiri sambil mengutuk
mereka dalam hati. Meskipun kami sudah hidup sebagai keluarga selama lebih dari
satu dekade, akan tetapi rasanya hanya aku saja yang merasa mual dengan segala
hal yang ada di rumah ini.
Ketenangan
dan kesunyian ini tidak membuatku merasa nyaman sama sekali.
Sebelum
keheningan membuatku kembali memikirkan pikiran-pikiran buruk, imajinasi liarku
untungnya terdistraksi oleh bunyi ketukan pintu dari luar. Karena ini sudah
malam dan jarang sekali orang yang mengunjungi rumah kami, aku tahu persis
siapa orang yang datang.
Siapa lagi
kalau bukan Ari, saudara suamiku yang juga sama-sama brengsek dan tidak berguna
dan selalu mengganggu malam hari kami?
Mungkin menjadi
lelaki parasit dan merendahkan orang lain sudah menjadi penyakit genetik yang
mendarah daging dalam keluarga Haryadi.
Dengan
enggan, akhirnya aku bangkit dari kursi untuk mempersilahkannya masuk ke dalam
rumah. Seperti yang sudah-sudah, Ari datang dengan kondisi setengah mabuk dan
bau miras tercium dengan jelas dari mulutnya.
“Halo, Kak
Yuni! Malam kak, permisi ya.” Tanpa menunggu ucapanku, Ari langsung masuk ke
dalam rumah dan duduk di sofa depan televisi sambil tetap mengenakan sepatunya
yang kotor oleh lumpur.
Aku sudah tidak memiliki rasa kesal lagi
karena ini adalah pemandangan yang sudah terlalu biasa. Amarahku pasti akan
sia-sia jika memarahinya karena dia mabuk dan tidak sadar akan apa yang dia
lakukan.
“Mas Adi,
punya apel, gak? Pusing banget aku, pengen makan buah.”
Ari menatap Haryadi
yang langsung menghela napas kesal seolah merasa terganggu dengan kehadiran
adiknya. Padahal dia sendiri yang sejak dulu mengizinkan adiknya untuk menggunakan
rumah kami sebagai rumah keduanya karena mereka sudah tidak memiliki
orang tua.
Namun, kedua
saudara ini sepertinya tidak sadar bahwa akulah yang paling dirugikan dengan persaudaraan
mereka yang erat.
“Dek, kamu
kasih saja apel yang tadi pagi kubeli. Aku taruh di kulkas tadi.” Haryadi
menyuruhku tanpa menatapku dan langsung kembali memainkan ponselnya.
Dengan
kesal, akhirnya aku membuka kulkas untuk mencari apel merah yang dibelikannya
tadi pagi. Lantas, aku mengambil pisau untuk mengupas kulit apel setelah
mencucinya hingga bersih.
Ari
melihatku dan berjalan untuk duduk di kursi meja makan sambil sempoyongan.
“Kak Yuni,
kamu kok tambah kelihatan tua, sih?”
Tak.
Suara pisau
yang mengenai talenan kayu terdengar jelas karena aku memotong apel dengan
keras. Sebisa mungkin aku menahan rasa kesal dan bersikap seperti biasa karena tidak
ingin menghabiskan tenagaku untuk bertengkar dengan Ari.
“Ya iyalah,
om. Ibu kan sudah tua,” Edwin menjawab dengan kesal. Selain aku, mungkin hanya
Edwin yang juga merasa terganggu dengan kebiasaan Ari yang selalu mendatangi
rumah kami ketika mabuk.
“Iya sih,
tapi jadi wanita kan tetap harus jaga diri. Kak Yuni, nanti masku selingkuh,
lho, kalo kamu tidak menjaga tubuh dan penampilan kamu.” Ari tertawa sambil menyindir
kakaknya sendiri.
Dia tidak
tahu bahwa ucapan bodohnya itu sudah terjadi.
“Aku tidak
punya waktu untuk olahraga karena harus mengurus ini itu. Lagi pula, gym itu
mahal. Aku tidak suka pergi ke sana, apalagi sendirian,” ucapku berusaha untuk
membela diri.
“Ah, masa,
sih kak? Padahal setahuku gym itu murah. Tapi iya sih, di sana
kebanyakan cewek-cewek yang muda dan bodinya montok. Pasti kakak bakal malu
banget kalo ke sana, hahaha!” Ari tertawa terbahak-bahak hingga hampir terjatuh
dari kursi.
Aku hanya
terdiam mendengar ejekan Ari sambil memegang gagang pisau dengan erat. Hal ini
sudah terlalu sering dia lakukan setiap dia datang ke rumah kami.
Entah apa
yang sudah kulakukan padanya, namun di matanya sepertinya aku adalah perempuan
yang tidak pantas untuk menjadi istri Haryadi.
Sikapnya membuatku
merasa jijik karena ketika dia sudah sadar, dia akan mengucapkan permintaan
maaf padaku karena sudah mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Namun, aku
tahu bahwa sisinya yang sebenarnya hanya akan muncul ketika dia mabuk dan mengejekku
tanpa provokasi.
Meskipun
begitu, aku tidak boleh marah.
Berkali-kali
aku menanamkan hal tersebut dalam otakku.
“Tahu, gak,
Kak Yuni? Masku ini juga ketemu cewek-cewek cantik di gym, lho. Kakak,
sih, tidak bisa jaga suami dengan baik. Jadinya masku selingkuh, kan.” Ari
tersenyum menyeringai sambil menatap kakaknya dengan tatapan mengejek.
Haryadi yang
semula fokus dengan ponselnya mulai terbelalak mendengar apa yang dikatakan
oleh Ari. Dia menatapku dengan sedikit panik, namun pandangannya langsung
beralih pada Ari. “Hei, diam kamu! Jangan bicara melantur! Siapa yang
selingkuh!?”
Aku tetap
diam dan fokus untuk memotong apel dan menaruhnya ke dalam piring agar terlihat
rapi.
Tahan
amarahmu.
“Hahaha. Wanita
itu kalau semakin berumur bakal semakin kendur, kak. Jadi jangan salahkan masku
kalau dia tidur dengan wanita lain. Lagian, kakak sendiri sudah tidak berbentuk
begitu. Harusnya kakak bersyukur bisa menikah dengan masku, sebab karena masku,
kakak akhirnya tidak jadi pelacur miskin yang menjual diri, kan?”
Sialan.
Ari tetap
terus mencerocos tak keruan meskipun Haryadi sudah memarahinya. Edwin sendiri hanya
terdiam kesal mendengar keributan yang terjadi.
Ah, aku
benar-benar sudah lelah dengan semuanya.
Seberapa
keras pun aku mencoba, ternyata aku tidak bisa menahan amarahku lagi.
Sudah ratusan
kali aku mendengarkan ucapan merendahkan dari Ari, anak ingusan manja yang sama
sekali tidak tahu apa yang aku rasakan dan alami selama ini. Dan sepertinya,
malam ini aku sudah merasakan kesabaranku berada di ujung tanduk dan tak
terbendung lagi.
Bagaimana
mungkin lelaki pecundang yang hanya menjadi parasit keluarga ini memiliki hak
untuk menceramahiku?
Satu-satunya
hal yang kupikirkan pada saat ini adalah: aku ingin membunuhnya.
Tidak ada
lagi hal lain yang menyelimuti otakku kecuali amarah yang membuat jantungku
terasa sesak seperti diperas oleh mesin pemeras kain. Tanganku menggenggam
gagang pisau semakin erat, dan aku tidak bisa lagi mendengar apa pun yang
diucapkan Ari setelahnya.
Suasana yang
menegangkan tadi menjadi sunyi dalam sekejap di telingaku.
Penglihatanku
terasa gelap, seakan-akan aku pindah ke dunia lain yang hanya dipenuhi warna
hitam di sekeliling.
Ternyata ini
rasanya ketika amarah yang selama ini kusembunyikan di dalam sudut otakku yang
terdalam mulai muncul dalam waktu yang bersamaan.
Aku tidak
tahan lagi.
Dan sejak
detik itu, tragedi pun dimulai.
Tanpa sadar,
aku mengayunkan pisau dan melemparkannya menuju ke arah Ari. Aku melemparkannya
secara refleks tanpa memikirkan hal apa pun, dan sedetik kemudian pisau itu
tidak ada di tanganku lagi.
“AH! IBU!”
Teriakan
Edwin membuatku tersentak dan tersadar dengan cepat untuk mencerna apa saja
yang baru saja terjadi.
Dalam
sekejap, suasana malam yang seharusnya berjalan damai dan membosankan berubah
menjadi pemandangan yang mengerikan. Pisau yang kulemparkan secara refleks tanpa
pikir panjang membuat malam ini berubah menjadi kejadian yang akan menghantui
kami seumur hidup.
Benda tajam yang
semula berada di tanganku tadi kini tertancap di kepala Ari, menusuk bagian lehernya.
Ari hanya bisa merintih dan tersungkur tak berdaya, lantas mulutnya terbuka
selama beberapa detik sambil mengeluarkan air mata. Darah merah pekat mulai
mengucur dengan begitu deras dari lehernya, sementara kami bertiga hanya dapat
membeku sambil merinding ketakutan tanpa bisa melakukan apa pun.
Hanya dalam
beberapa detik, Ari tergeletak tak berdaya di lantai dan tidak ada suara apa
pun yang terdengar lagi. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ari masih hidup atau pun
bergerak.
Sepertinya,
Ari benar-benar sudah mati.
Hal gila
apa yang baru saja kulakukan?
Tanganku
gemetar dengan hebat dan keringat dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Napasku
tersengal-sengal, menyaksikan Ari mati dan menghembuskan napasnya secara
perlahan-lahan membuatku terpaku dan tak sanggup untuk menggerakkan otot
tubuhku sedikit pun. Edwin menangis ketakutan dan langsung berlari memeluk
Haryadi yang juga hanya bisa terdiam sambil menganga.
Kami terpaku
menatap Ari selama beberapa detik, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk yang
tidak pernah terjadi. Haryadi menenangkan Edwin yang menangis histeris, dan aku
menatap mereka dengan jantung berdegup kencang.
Aku adalah
ibu tidak waras yang membuat anaknya yang masih SMP memiliki trauma dengan
membuatnya menyaksikan pamannya terbunuh tepat di depan matanya sendiri.
Setelah
beberapa saat kami terdiam menyaksikan kematian Ari, Haryadi langsung berteriak
sambil menangis dan menjambak rambutku. Tangannya mengepal dan mulai melayangkannya
pada hidungku. “APA KAMU GILA?! APA YANG BARUSAN KAMU LAKUKAN?!”
Satu kali pukulan,
aku tidak merasakannya. Lalu dua kali, tiga kali, entah berapa kali suamiku
menampar dan memukuli kepalaku. Aku tidak ingat karena tamparannya begitu keras
hingga aku terhuyung menabrak tembok dapur yang ada di belakangku. Darah mulai
keluar dari hidungku dan pandanganku mulai kabur.
Anehnya, aku
sama sekali tidak merasakan rasa sakit.
Lebih
tepatnya, aku tidak boleh merasakan rasa sakit karena ini adalah tragedi yang
terjadi karena kesalahanku sendiri. Tanganku menyentuh wajahku yang panas dan
memar karena tamparan suamiku, dan air mata mulai mengucur.
Aku tidak
sanggup melihat mata Haryadi atau pun Ari yang berbaring di atas lantai. “Mas...
A-apa yang harus kulakukan?”
Dengan
terbata-bata dan tangisan yang menahan tenggorokanku, aku bertanya pada Haryadi
yang masih begitu marah. Tatapanku kembali menyaksikan Ari yang sudah menjadi
mayat, padahal beberapa menit lalu dia masih duduk di kursi sambil menghinaku
tanpa henti.
Untuk
pertama kalinya, aku berharap tetap mendengarkan berbagai hinaan yang Ari
lontarkan karena itu adalah hal yang lebih baik daripada kenyataan bahwa
sekarang aku sudah menjadi seorang pembunuh.
Keheningan mulai
menyelimuti kami, dan bau amis darah Ari semakin menyengat. Edwin tidak bisa
berhenti gemetar ketakutan, tangannya tetap memeluk suamiku dan tidak sanggup
melihat pamannya yang mati. Haryadi hanya bisa diam dan mulai memikirkan
sesuatu.
Aku tidak
bisa memikirkan apa pun, selain duduk tersungkur dengan wajah lebam serta
tatapan mata yang tertuju pada darah merah pekat yang memenuhi lantai ruang
makan ini.
Skenario
pembunuhan yang sering aku bayangkan di dalam mimpiku sekarang sudah menjadi
kenyataan, namun orang yang kubunuh bahkan bukan target yang sering muncul di
mimpiku. Benar-benar kenyataan yang mengerikan.
“Dek.”
Setelah
hening yang cukup lama, Haryadi meminta Edwin pergi tidur ke kamarnya karena
ingin berbicara denganku. Edwin menurut karena sudah lelah menangis, lantas
Haryadi memanggilku dan menyuruhku untuk duduk di kursi. Aku bahkan tidak
sempat memikirkan cara untuk menenangkan Edwin sedikit pun.
Dengan
lemah, aku berusaha untuk bangkit dan mengikuti perkataan Haryadi. Tubuh dan
pikiranku terasa remuk dalam sekejap, seolah-olah otakku terbentur oleh beton
dan tidak bisa kugunakan lagi untuk berpikir.
Selama
beberapa saat, Haryadi menatapku dengan saksama. Matanya tajam dan menusuk, membuat
wajahnya yang tampan menjadi tampak seolah ingin membunuhku dengan keji dalam
seketika. Akan tetapi, tanpa disangka tangannya justru mulai menyentuh dan
menggenggam kedua tanganku yang masih gemetar dengan lembut. Lantas, dia mulai berbicara.
“Kita buat
Ari menghilang saja. Aku yang akan mengubur mayatnya di belakang rumah, nanti
kita buat seolah-olah dia pergi ke luar kota setelah mengunjungi rumah kita.
Tidak ada CCTV di daerah kita, jadi pasti tidak ada yang tahu kalau dia mengunjungi
kita. Si Ari juga tidak punya teman. Aku yakin tidak akan ada yang akan
mencarinya. Besok kita yakinkan Edwin untuk tidak membocorkan hal ini, dan
pastikan kamu juga tutup mulut.”
Butuh
beberapa saat bagiku untuk mencerna perkataan yang keluar dari mulut Haryadi.
Setiap kata yang dia ucapkan terasa dingin hingga membuatku merinding.
Aku menganga
menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin dia memperlakukan mayat adiknya sendiri
seperti ini?
“M-mas...
Apa benar kita tidak usah lapor polisi? Aku harus menyerahkan diriku. A-aku—” Tanganku
kembali gemetar dan keringat dingin mulai keluar dari telapak tanganku. “Aku
tidak tahan jika harus hidup begitu. Aku sudah membunuh orang, mas. A-aku sudah
m-membunuh adikmu sendiri.”
Haryadi mengerutkan
keningnya dan menamparku lagi. Rambutku sudah tidak terlihat seperti rambut
manusia karena tamparan suamiku yang begitu keras hingga membuat telingaku
berdengung.
“Kamu bodoh
ya?! Memangnya kamu pikir kamu mau karier, reputasi, dan hidupku hancur
semuanya? Kamu mau Edwin ditindas teman-temannya karena memiliki ibu pembunuh? Kamu
pikir aku mau menghancurkan hidupku demi istri gila sepertimu dan adik bodoh
tukang mabuk yang menyusahkan itu?!”
Suamiku berteriak,
dengan nada tinggi yang kudengar untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu
dekade hidup dengannya. Otot di lehernya tampak terlihat jelas, yang menjadi
tanda bahwa dia memang sangat marah.
Namun, dia
langsung tersadar akan suaranya yang terlalu keras, sehingga dia mencoba
mengatur napas seolah berusaha menahan amarahnya.
Aku hanya
bisa terdiam dan menahan air mata yang kembali menggenang. Kenyataan bahwa
bahkan ketika berada di situasi seperti ini pun, suamiku hanya mementingkan
dirinya sendiri dan bukan aku, membuatku kembali tersadar bahwa eksistensiku
tidak memiliki arti apa-apa di matanya.
Namun, tidak
ada yang bisa lakukan. Semua ini memang terjadi karena kesalahanku yang tidak
akan terampuni untuk selamanya.
Aku menunduk
dan menatap lantai rumah kami, dan aku baru menyadari bahwa lantai marmer rumah
kami memang begitu indah.
Benar. Seluruh
sudut rumah dan perabotan, bahkan lantai rumah ini semuanya adalah hal yang
dipasang menggunakan uang suamiku. Di antara masyarakat sekitar rumah kami,
Haryadi adalah sosok pebisnis muda yang sempurna; selalu bersedekah, menyayangi
keluarga, karier yang cemerlang, dan senantiasa ramah terhadap tetangga.
Jika aku
mengotori nama baiknya di masyarakat, maka tidak akan ada tempat lagi bagi kita
bertiga. Apa yang akan Edwin lalui jika dia dikenal sebagai anak seorang ibu
pembunuh?
Pikiran
tersebut mulai menghantuiku.
Pada akhirnya,
aku mengangguk pelan. “B-baik, mas. Aku tidak akan lapor pada siapa pun...”
Dan
begitulah kehidupan kami mulai berubah.
Malam itu,
kami berdua menjalani tugas masing-masing seperti yang sudah kami sepakati.
Suamiku menggotong mayat adiknya sambil memakai sarung tangan dan masker. Meskipun
dia terlihat kuat dan tegar, matanya tak berhenti mengeluarkan air mata.
Baru kali
ini aku merasa pilu melihat suamiku yang aku benci.
Siapa pun
pasti akan merasa tersayat hatinya jika harus memakamkan keluarga terdekatnya
sendiri. Terlebih jika keluarganya harus dimakamkan tanpa pemakaman yang layak.
Terlebih ketika keluarganya itu dibunuh oleh istrinya sendiri.
Selagi
suamiku sibuk menggali lubang di belakang rumah kami, aku sibuk membersihkan
bekas darah Ari yang tadi menempeli lantai. Seluruh bagian ruang makan harus
kubersihkan tanpa ada celah yang tersisa, mulai dari bagian bawah meja hingga sudut-sudut
tak terlihat yang sering kuabaikan.
Aku tidak
boleh meninggalkan jejak apa pun, demi suami dan anakku.
Benarkah
ini semua kulakukan demi mereka?
Aku tidak
bisa berhenti sesenggukan. Beruntung, kejadian ini terjadi ketika tetangga di
sekitar rumah kami kebanyakan sedang keluar rumah karena ada hajatan di desa
sebelah. Tidak akan ada yang tahu bahwa terjadi pembunuhan di dalam rumah kami,
dan mereka juga tidak akan tahu bahwa Haryadi sekarang memakamkan adiknya
sendiri di halaman belakang.
Setelah aku
dan Haryadi menyelesaikan hal-hal yang harus kami lakukan, kami membersihkan
diri dan tidur di kamar kami. Kami tidak mengucapkan kata-kata apa pun. Seolah
tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi pada malam ini.
Benar, ini
semua akan baik-baik saja.
Tidak ada
yang tahu, dan selamanya aku akan menutup mulutku bahkan hingga kematian
menjemputku.
Tidak
apa-apa, aku tidak akan masuk penjara.
Semuanya
akan baik-baik saja.
Esok,
semuanya akan kembali seperti semula.
Malam itu,
aku tertidur sambil memikirkan berbagai siksaan seperti apa yang akan menantiku
di neraka.
(Also posted this on Medium)
Komentar
Posting Komentar