a loving reunion
a short story i made mindlessly and it really feels like sinetron lmfao
Di suatu desa yang tersembunyi dibalik kesunyian dan kemeriahan, hiduplah tiga orang keluarga yang hidup dengan penuh kasih sayang.
Keluarga itu terdiri atas seorang ayah, seorang ibu, dan anak laki-laki yang mereka besarkan dengan luapan rasa cinta seluas lautan. Mereka tidak jauh berbeda dengan keluarga normal pada umumnya. Desa yang mereka huni berada di area yang diselimuti oleh ketenangan dan jauh dari kegaduhan knalpot yang memekikkan telinga.
Anak laki-laki itu tidak pernah kehilangan senyuman.
Dengan dekapan dan perlindungan kedua orang tua yang menemani tiap derap langkahnya, dia tumbuh sebagai anak yang paling bahagia di dunia. Ayah dan ibunya memberinya nama Binar, dengan harapan dia akan tumbuh sebagai lelaki yang memancarkan kebahagiaan pada alam semesta. Harapan yang terdengar konyol dan berlebihan, akan tetapi Binar senantiasa memamerkan arti namanya pada teman-teman barunya ketika mereka berkenalan untuk pertama kali.
Keluarga kecil itu selalu menyambut tiap hari dengan senyuman. Ayah akan pergi ke sawah untuk mengecek padi yang dia tanam, Ibu akan pergi ke kebun dan memetik sayur serta buah-buahan yang tumbuh subur, sementara Binar akan pergi memberi makan ayam dan sapi sebelum pergi ke sekolah.
Binar menyukai rutinitas harian mereka yang konstan dan harmoni tanpa perubahan berarti. Dia sudah merasa sempurna hanya bersama dengan ayah dan ibu, terlebih dia tidak pernah merasa perutnya kosong bahkan satu kali pun.
Meski begitu, kerukunan keluarga mungil itu tidak selalu aman dari gunjingan tetangga.
Seperti hidup di desa-desa pada umumnya, siapa pun akan menjadi topik pembicaraan apabila ada hal yang lain dari kebiasaan. Keluarga Binar juga salah satu korban dari tradisi tak tertulis kehidupan warga desa.
Dari jauh, mereka terlihat seperti keluarga biasa yang hidup dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi, jika orang asing melihat mereka untuk pertama kali, pasti akan terbesit pemikiran ini dalam benak mereka: bagaimana bisa anak dan orang tua ini terlihat begitu jauh berbeda?
Sejak kecil, Binar sudah cukup sering mendengarkan cemoohan dari teman dan warga lainnya. Mereka akan berkata, bagaimana bisa kedua orang tuanya yang begitu buruk rupa itu memiliki anak yang tampan dan bersih seperti batu giok yang senantiasa dipoles dengan nilai seni tinggi?
Kedua orang tua Binar memang terlihat jauh lebih tua dibandingkan dengannya. Daripada ayah dan ibu, mereka terlihat seperti kakek dan nenek Binar yang masih penuh energi di kehidupan senja mereka.
Ayah memiliki postur tubuh pendek dan wajah yang dipenuhi keriput tebal, serta rahang besar yang membuat kepalanya tampak lebih menonjol daripada tubuhnya. Sementara Ibu adalah sosok perempuan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya, disertai rahang bagian bawah yang menjulang ke depan dan kulit yang dipenuhi oleh bercak-bercak miris yang menyebar di seluruh tangan.
Sementara Binar adalah anak yang memiliki penampilan layaknya dia dilukis langsung oleh Tuhan dengan kuas terbaik sealam semesta.
Semakin dia tambah berumur, rupanya yang lugu tanpa cela di masa kecil berangsur-angsur berubah menjadi sosok lelaki yang akan membuat siapa pun menengoknya dua kali saat berpapasan dengannya di jalan raya. Rahang tegas dengan pahatan wajah yang presisi disertai postur tubuh yang menjulang, membuatnya dapat dikenali dengan mudah meski saat Binar berada di kerumunan yang sesak. Para warga desa ini terkadang menyuruhnya untuk menjadi selebritas dan tampil di televisi, demi membanggakan semua orang dan menaikkan prestise desa.
Ketika Binar masih kecil, dia menangis saat bercerita pada Ayah dan Ibu tentang ucapan teman-temannya yang mengejek orang tuanya. Mendengarkan ratapan tangis Binar, Ayah dan Ibu hanya tersenyum dan memeluk Binar. Mereka akan mengelus rambut Binar dengan lembut, lalu berkata: Tidak apa-apa, Binar. Meskipun kita sangat berbeda, akan tetapi kasih sayang Ayah dan Ibu akan selalu mendampingi kamu untuk selamanya.
Puluhan musim hujan dan musim kemarau telah mereka lewati dengan penuh rasa haru dan bahagia, dan Binar kini telah menjadi lelaki dewasa.
Dia tidak memiliki niatan untuk keluar dari desa dan meninggalkan Ayah dan Ibu yang semakin menua. Dia merasa puas hanya bekerja membantu ayah menjadi petani di sawah sambil berbincang-bincang dengan orang sepuh di desa yang ditinggalkan oleh anak cucunya. Terkadang dia juga membantu perangkat desa ketika kesulitan mengoperasikan komputer, bahkan Binar pun sempat menjadi model untuk membantu perangkat desa saat membuat video mempromosikan kegiatan tujuh belasan.
Binar tidak pernah merasa ada yang kurang, dan berharap kebahagiaan seperti ini akan abadi untuk selamanya.
Akan tetapi, tidak ada yang namanya kebahagiaan abadi.
Cepat atau lambat, akan ada titik di mana ilusi kebahagiaan dapat hancur berkeping-keping tanpa bisa diuraikan kembali.
Dan tidak ada yang menyangka bahwa hal itu terjadi begitu saja pada Binar tanpa ada yang memprediksi sebelumnya.
Pada suatu tengah malam yang tenang setelah Binar reuni dengan teman sekolahnya, dia mendapati Ayah dan Ibu tidak ada di rumah.
Binar tidak merasakan keberadaan Ayah dan Ibu sama sekali. Di dapur, di halaman belakang, di kamar mereka. Tidak ada satu pun. Dompet dan pakaian mereka masih ada di lemari, namun mereka tidak ditemukan di mana pun. Seberapa keras pun dia memanggil mereka, tetap nihil.
Detak jantung Binar berdegup kencang berhadapan dengan situasi yang tidak pernah dia hadapi sama sekali sebelumnya. Pikiran liar mulai muncul membuat keningnya mengerut dalam kegelisahan, namun sisi rasionalnya membantah bahwa ini perbuatan pencuri karena rumahnya begitu rapi dan tidak ada barang yang berpindah atau hilang.
Dia bergegas membangunkan tetangga sebelah dan sekitar rumah mereka dan bertanya pada pintu demi pintu, apakah ada yang tahu Ayah dan Ibu saya ada di mana?
Namun, semuanya berkata bahwa mereka tidak tahu. Semuanya akan menjawab, bukankah ayah dan ibu kamu biasanya jam sekarang sudah tidur?
Binar tidak sempat menjawab pertanyaan mereka karena dia merasa kesulitan untuk bernapas. Dia tidak terbiasa berhadapan dengan perubahan, atau hal yang berjalan tanpa semestinya.
Ayah dan Ibu, kalian ada di mana?
Binar tidak memiliki keluarga dan kerabat lain selain Ayah dan Ibu. Hal di luar rutinitas adalah hal yang paling ditakuti oleh Binar, karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tetangganya segera mendatangi rumah Binar, saling menelepon orang-orang yang sekiranya dikenal oleh Ayah dan Ibu serta bertanya tentang kemungkinan keberadaan mereka saat ini.
Tetap saja, tidak ada jawaban yang berarti.
Panik mulai menyelimuti sekujur tubuh Binar, keringat dingin mengucur tak berhenti. Genangan air mata sudah mulai menumpuk di pelupuk dan siap tumpah dari matanya, namun Binar berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan rintik air mata tersebut turun. Demi Ayah dan Ibu, dia harus tetap bisa berpikir jernih untuk mencari mereka.
Beberapa jam berlalu, detik demi detik berjalan, namun keberadaan orang tua Binar masih diselimuti misteri. Tetangga Binar yang merupakan seorang polisi mencoba membantu membuat laporan, akan tetapi pihak berwajib menyuruh Binar menunggu karena orang dewasa yang keberadaannya masih belum diketahui kemungkinan memiliki acara atau alasan tertentu.
Alasan apa? Binar sama sekali tidak menemukan jawaban apa pun.
Ketika kesabaran Binar sudah hampir menipis dan matahari telah bersinar terlalu lama sejak pertama kali kedua orang tuanya menghilang, dia menerima sebuah pesan di ponselnya.
Gedung X, jam 9 malam.
Pesan dari orang yang tidak dikenal, dengan teks singkat tanpa menjelaskan apa pun. Binar mengernyitkan dahi dan menunjukkannya kepada kepala desa serta beberapa tetangga yang ada di dekatnya. Tidak ada yang tahu siapa pemilik nomor atau maksud dari pesan tersebut. Apa ini ancaman, suruhan, atau petunjuk tentang ayah dan ibunya yang menghilang?
Dengan segera, Binar mencari informasi tentang gedung yang dikirimkan oleh orang misterius itu. Gedung X berada di kota yang jauh dari desa tempat Binar tinggal, mungkin membutuhkan waktu 6 jam ke sana menggunakan mobil. Itu pun jika jalan raya yang dilalui benar-benar normal tanpa ada kemacetan atau hambatan apa pun. Dengan kereta, mungkin hanya memerlukan waktu 2 jam, namun tiket kereta tersebut harus dibeli dengan uang yang sulit dijangkau oleh Binar.
Namun, Binar tidak memiliki waktu untuk menimbang-nimbang. Dia sedang berpacu dengan takdir yang samar.
Binar memutuskan untuk pergi sendiri tanpa menunggu bantuan pihak berwajib, sambil membawa persiapan seadanya seperti pisau dapur sebagai senjata untuk melindungi dirinya sendiri. Dia bergegas mengambil uang transportasi, lantas berpamitan kepada tetangga lainnya untuk menjaga rumahnya.
Setiap langkah kaki yang dia lakukan membawanya pada kabut ketidaktahuan yang pekat.
Hanya satu hal yang utama di pikiran Binar: keselamatan Ayah dan Ibu, yang akan dia bawa pulang entah bagaimana pun caranya.
Gedung X berada di area yang jauh dari kota, terbukti dari sopir taksi yang kebingungan saat Binar menunjukkan rute yang dia lihat di ponselnya. Sebelumnya, ini adalah gedung yang digunakan sebagai pabrik, akan tetapi karena ada masalah dalam mendapatkan izin legal dari pihak pemerintah terkait keamanan lingkungan sekitar, maka gedung tersebut tidak sempat mendapatkan renovasi dari perusahaan pendirinya.
Warga sekitar telah terbiasa dengan keberadaan gedung terbengkalai tersebut, namun karena sering terjadi tragedi yang memakan korban jiwa anak kecil yang bermain di sana, maka sekarang seluruh orang dilarang memasuki gedung tersebut.
Lantas, apa yang membuat pengirim pesan misteri tadi menyuruh Binar untuk datang ke gedung berbahaya tak berpenghuni ini?
Setelah turun dari taksi, secara perlahan Binar menyisir area gedung yang sepi dan sunyi ini. Areanya yang berada dekat dengan hutan membuatnya jauh dari pemukiman warga, sehingga tidak ada suara orang yang lewat sama sekali.
Sepi, sunyi, dengan keheningan mematikan yang membuat siapa saja merasa bergidik ketika melewatinya. Begitu pula dengan Binar, meskipun dia terpaksa harus menahan rasa ketakutan dan kengerian di dalam hatinya untuk mencari tahu kebenaran dibalik menghilangnya kedua orang tuanya.
Hanya hembusan angin malam dan suara rumput liar yang dia injak menjadi teman dekat yang membantunya agar merasa tidak terlalu gentar. Setelah memasuki area dekat gerbang Gedung X, Binar mulai menyadarinya bahwa terdapat sejumlah mobil hitam yang berada di depan gedung itu. Anehnya, Binar tidak merasakan tanda-tanda kehidupan atau pun orang. Lantas, siapa pemilik mobil-mobil itu?
Sambil menyalakan lampu dari ponselnya, Binar berdoa di dalam hati bahwa ini merupakan keputusan yang tepat untuk datang. Bagaimana jika pesan yang dia terima adalah pesan iseng yang dikirim oleh anak-anak nakal kepadanya? Bagaimana jika ternyata pesan tadi adalah pesan salah kirim yang tidak berarti apa-apa?
Keraguan dan pertanyaan di dalam benak Binar terhenti ketika dia mendengarkan suara sesuatu yang bergerak dari dalam gedung. Secara mendadak, lampu di dalam Gedung X tersebut menyala dengan terang yang membuat Binar mengernyitkan matanya untuk memproses cahaya lampu itu.
Dari pintu sebelah utara gedung, muncul lelaki tua dengan wajah yang menunjukkan waktu kematiannya hampir dekat. Begitu pucat dan ringkih serta dipenuhi oleh keriput yang berlapis-lapis. Dia duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang pemuda berambut kuncir dalam balutan jas hitam. Tak lama kemudian, muncul iring-iringan lelaki berbadan tegap dari belakang yang juga memakai pakaian serba gelap, menciptakan aura mematikan yang mencekam.
Binar menelan ludah, sama sekali tidak memprediksi pemandangan yang mirip film-film aksi yang dia tonton akan hadir di depan matanya. Kumpulan lelaki dengan tubuh besar dan mengerikan yang berpakaian serba hitam mirip seperti tokoh antagonis film aksi komedi yang sering Binar tonton bersama temannya di desa.
Apa Binar sudah benar-benar melakukan kesalahan yang mematikan?
Secara refleks, Binar membalik arah dan bergegas keluar dari gedung karena dia tidak ingin berurusan sama sekali dengan komplotan lelaki berpakaian serba hitam itu. Akan tetapi, sebelum Binar sempat menyentuh lantai pelataran, dia dihadang oleh sosok jangkung yang membuat Binar terpaksa mendongak untuk menatap wajahnya.
Lelaki jangkung tersebut memiliki luka panjang yang tampak menonjol di bagian dagunya. Tatapan matanya menukik tajam pada mata Binar, sukses menurunkan niatnya untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
Tidak salah lagi, Binar memang melakukan kesalahan bodoh yang membuatnya terjebak.
Detak jantung Binar kembali berpacu tak keruan, keringat dingin merembes hingga membasahi kerah lehernya. Harapannya untuk lolos dan kabur dari situasi ini pupus sudah. Bagaimana mungkin dia mampu melawan puluhan lelaki yang kemungkinan bersenjata di depannya jika kedua tangannya selama ini hanya dia gunakan untuk bertani dan berkebun, tanpa pernah berkelahi sekalipun dalam hidupnya?
Tidak ada yang bisa Binar lakukan kecuali diam terpaku sambil menunduk menatap lantai, berharap lantai tersebut menelannya secara utuh dan membantunya keluar dari situasi ini. Keheningan mencekam ini berlangsung selama beberapa menit hingga suara parau lelaki tua di kursi roda yang dia lihat tadi memecah suasana tegang yang mencekik Binar.
“Bagaimana kabarmu, nak?”
Binar membeku. Butuh beberapa waktu baginya untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar. Dia tidak pernah melihat sosok lelaki renta yang dipenuhi keriput dan bernapas secara tersengal-sengal ini. Selama dua dekade, Binar tidak pernah mendengar atau mengetahui orang tuanya memiliki hubungan apa pun dengan sosok di depannya.
Lantas, dia siapa? Kenapa dia memanggil Binar seolah-olah mereka memiliki ikatan khusus?
“Apa?” Binar hanya dapat menjawab lirih sambil terbata-bata. Dia menatap kursi roda yang diduduki lelaki tua itu semakin bergerak maju secara perlahan menuju ke arahnya. Binar menatap raut muka orang asing yang ada di depannya, namun tatapan yang dia lontarkan kepadanya bukanlah tatapan dari orang asing yang baru pertama kali bertemu.
Ada rasa kerinduan, kebahagiaan getir, dan rasa duka mendalam yang terpancar dari kedua mata senja itu.
Binar hanya bisa terpaku dan berdiri sambil meremas tali tasnya dengan erat secara kuat saat sosok lelaki tua itu berada tepat di depan matanya. Ketakutan yang dia rasakan tadi berangsur-angsur menghilang, tergantikan oleh pertanyaan baru yang bermunculan di benaknya.
“Sudah lama sekali aku mencarimu di mana-mana,” ucap lelaki tua itu dengan suara tertatih-tatih, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya membuatnya tersesak. “Aku pikir kau sudah mati, tapi aku tidak bisa menemukan jasadmu di mana pun. Selama dua dekade ini, aku sudah mati berkali-kali setiap kali aku gagal menemukanmu dan menguburkanmu dengan layak. Aku tidak ingin menemui anakku dengan rasa bersalah di akhirat karena tidak bisa menemukanmu.”
Binar kehilangan kata-kata mendengarkan apa yang diucapkan oleh lelaki tua ini.
Apa? Apa-apaan ini? Bagaimana bisa lelaki tua ini berkata seakan mereka memiliki sejarah panjang di masa lalu padahal Binar sama sekali tidak pernah melihatnya?
“Kemarilah, nak.” Lelaki tua itu perlahan mengangkat tangannya dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk menyentuh Binar, air mata perlahan mengalir dari pelupuk matanya.
Namun, Binar diam tak berkutik. Bagaimana bisa dia menurut begitu saja jika situasi ini begitu membingungkan? Tidak ada orang normal yang bisa memproses situasi ini sebagai situasi biasa, karena situasi ini pada dasarnya sama sekali tidak normal.
Sambil berusaha menguatkan dirinya, Binar lantas berkata, “Maaf, saya tidak mengenal Anda, pak.”
Lelaki tua itu tertegun sejenak dan terdiam mendengarkan jawaban Binar, namun tidak ada kilat amarah di matanya. Sebaliknya, dia tersenyum getir sambil menyeka air matanya. Dia memberikan isyarat kecil pada lelaki muda yang mendorong kursi rodanya, dan sosok yang sepertinya kaki tangannya itu pun mengangguk serta meninggalkan ruangan.
“Tentu saja kamu sudah lupa,” bisiknya dengan lembut. “Sudah dua dekade aku gagal menemukanmu, dan mungkin sudah ada banyak hal yang kamu lalui selama ini. Melihatmu tumbuh sehat dan hidup saja sudah lebih cukup bagiku, Nak.”
Setiap kata yang keluar dari bibir keriput lelaki tua itu semakin membuat Binar tersesat dalam labirin yang menyesatkan. Apakah ini seperti adegan klise di sinetron yang terkadang ditonton ibunya, seperti Binar yang sebenarnya merupakan anak bangsawan yang menghilang? Lalu lelaki tua ini datang untuk menjemputnya kembali ke rumah mewah mereka? Lalu jika benar, di mana ayah dan ibu saat ini?
Lamunan itu pecah ketika terdengar gesekan kasar karung yang datang dari kegelapan, menandakan pemuda kaki tangan lelaki tua itu datang kembali. Akan tetapi, kini dia tidak sendiri. Dua lelaki di belakangnya berjalan pelan sambil menyeret dua karung goni besar berwarna cokelat yang kusam. Tanpa sepatah kata pun, mereka mengeluarkan pisau dari kantong celana dan merobek tali penutup karung dengan dingin.
Detik itu juga, bumi yang Binar pijak terasa hancur.
Apa yang keluar dari karung itu adalah adegan horor yang melebihi mimpi buruk mana pun. Kengerian tak terhingga membuatnya tercekat, oksigen di sekitarnya seperti menghilang dalam sekejap, dan Binar lupa caranya bernapas.
Dari karung tersebut, menggelinding keluar kepala ayah dan ibunya.
Benar, hanya kepalanya saja.
Tanpa rasa iba, kedua lelaki berbadan tegap tadi mengangkat kepala ayah dan ibu seperti sedang mengangkat dua bola mainan yang dipamerkan kepada Binar, lantas melemparkannya dengan kejam. Wajah kedua orang tuanya menganga kaku dengan mata setengah terpejam, lebam keunguan yang membusuk telah menggantikan seluruh jejak kehidupan di wajah mereka. Tidak ada lagi wajah tersenyum hangat yang terpampang dari ayah dan ibu, tergantikan oleh kepala penuh darah yang meninggalkan jejak kebengisan.
Logika Binar menolak kenyataan di depannya. Tidak mungkin dua bola tak bernyawa itu adalah kedua orang tuanya. Mustahil ini terjadi.
Kakinya kehilangan kekuatan untuk berdiri. Binar tersungkur menghantam lantai, mengeluarkan teriakan hebat yang menyayat setiap orang yang mendengarnya. Isi perutnya bergejolak hebat seakan seluruh organ tubuhnya dikoyak-koyak oleh mesin penggiling. Dalam sekejap, dia mengeluarkan muntahan menyaksikan orang yang dia cintai kini tereduksi menjadi benda asing tak berjiwa.
Air mata tak berhenti mengalir dari matanya. Binar berusaha merangkak bangkit, pikirannya hanya satu: pergi dari sini.
Sebab mungkin saja ini mimpi buruk konyol dan dia hanya perlu pergi untuk segera bangun kembali ke realitas. Kembali ke pelukan ayah dan ibunya yang sehangat sentuhan sang surya.
Belum sempat berdiri, tubuhnya segera dipegang oleh dua penjaga di belakangnya dengan erat, seakan menyuruh Binar untuk tetap melihat kepala ayah dan ibunya yang tak bernyawa dengan mata kepalanya sendiri.
Lelaki tua yang ada di kursi roda itu hanya diam menyaksikan Binar, menghela napas dengan letih. Dia mendekati Binar dengan kursi roda, perlahan menyentuh kepala Binar dan mendekapnya yang sedang mengaung dalam ratapan duka yang hebat.
“Maafkan aku, nak. Maafkan aku harus membiarkanmu melihat pemandangan ini,” bisik lelaki tua itu dengan lirih sambil mengusap kepala Binar. Suaranya parau dan getir, seakan dia memahami gravitasi kepedihan yang dialami Binar. “Namun, ini adalah bayaran yang sesuai atas apa yang sudah mereka lakukan kepadamu. Kepadaku. Kepada ayah dan ibumu.”
Binar yang sesenggukan perlahan-lahan berusaha untuk menguasai dirinya kembali. Dia berusaha untuk mengeluarkan dekapan lelaki tua ini darinya, lantas menatapnya. Apa yang baru saja dia katakan?
“A-apa ... apa maksud Anda?” Dengan susah payah, Binar bertanya tak percaya. Suaranya tercekat oleh kebingungan. Apa maksud dari ayah dan ibumu? Bukankah dua jasad dengan kepala terpisah di depannya adalah orang tuanya?
Lelaki tua itu terdiam, pandangannya menjadi dingin dengan aura kejam yang kental. Dia kembali menyuruh pemuda di belakangnya dengan instruksi tanpa mengeluarkan kata-kata. Pemuda itu perlahan mengeluarkan sebatang rokok lantas menyelipkannya di bibir atasannya sambil perlahan menyalakan pemantik api pada ujung tembakau. Lelaki tua itu mulai menghisap rokoknya dan menghembuskan asap ke udara, meski dengan napas tersengal-sengal.
“Dua orang biadab ini.... mereka bukan orang tuamu.” Lelaki tua itu mengawali ucapannya dengan tegas, keji, dan tanpa ampun. Tatapan hangat dan penuh rindu yang dilihat Binar tadi sirna seketika, tergantikan oleh tatapan hitam tajam yang menyimpan lautan tragedi di dalamnya. “Mereka adalah orang yang membunuh orang tuamu dua puluh tahun lalu.”
Lidah Binar kelu dan membeku, tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam dengan mulut menganga. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin.
Pikirannya menolak apa pun yang dikatakan oleh lelaki tua bangka ini.
Tidak, tidak, dia pasti hanya berbohong.
Mungkin dia salah orang. Tidak mungkin ayah dan ibu adalah pembunuh. Dua orang tua yang selalu memeluknya setiap dia merasa bahagia, atau pun saat dia merasa hancur. Pembunuh? Mereka hanyalah petani biasa. Pasti ada alasan lain yang lebih masuk akal daripada apa yang lelaki itu katakan.
Tidak mungkin.
“Mereka adalah Agen 56 dan Agen 78, pembunuh bayaran yang dulu diberi tugas untuk membunuhku oleh rivalku,” lelaki tua tadi kembali melanjutkan ucapannya dengan datar, seolah tidak memahami bahwa tiap kata yang terlontar dari mulutnya terasa seperti parang tajam yang membelah tiap inci jantung Binar.
“Mereka bukan Yanto dan Sriningsih, orang tuamu yang selama ini kamu kenal di desa.” Lelaki tua itu kembali menyesap rokoknya dan mengeluarkan gumpalan asap putih pekat yang membuka kabut kelam dari masa lalu. “Dua puluh tahun lalu, saat kamu baru beberapa minggu keluar dari perut ibumu. Putriku begitu menyayangimu, dan dia begitu ingin mengenalkanmu kepadaku karena kita sudah lama tidak bertemu. Akan tetapi, dia datang pada saat yang salah.”
Lelaki tua itu menghela napas panjang, oksigen di dalam gedung ini mulai bercampur dengan asap rokok yang keluar dari hidungnya. Dia berusaha menahan mulutnya yang bergetar, rahangnya mengeras seperti baja yang menyimpan getir tak tertahankan.
“Agen 56 dan Agen 78 menyusup ke acara perjamuan yang kuadakan untuk menyambut pernikahan putriku dan dihadiri oleh orang-orang terdekatku di organisasi. Mereka membunuh semua orang yang datang tanpa terkecuali, meskipun target utama mereka berhasil kabur. Aku kehilangan kakiku dalam acara tersebut, namun kehilangan kaki bukanlah apa-apa dibandingkan kehilangan anak dan cucuku dalam sekejap mata.” Sorot matanya yang pilu perlahan berkilat dengan api amarah yang menyala. Dia menatap kakinya yang berada di tumpuan kursi roda, dendam yang menyelimuti hatinya terpampang dengan nyata.
“Suami putriku mati karena tertembak tepat di kepalanya saat berusaha melindungi anakku. Namun, usahanya sia-sia karena Agen 56 tetap berhasil menembak putriku di jantungnya saat ingin melindungimu.”
Binar masih membeku mendengarkan cerita omong kosong lelaki tua ini. Bagaimana mungkin dia mendeskripsikan orang yang sama dengan Ayah dan Ibu? Dua orang tua yang membangun kehidupan damai dan surga yang menawan hanya untuk Binar seorang, di desa mereka yang tenteram? Orang tua yang setiap hari menyajikan sarapan nasi bakar kesukaannya, mengecup keningnya saat masih kecil dengan penuh kasih, yang tangannya selalu Binar cium setiap hari jika pergi keluar rumah?
“Aku berhasil kabur karena anak buahku yang bodoh memilih melindungiku terlebih dahulu dan membiarkan anak cucuku terjebak dalam bahaya. Aku kehilangan kesadaran saat kakiku tertembak, sehingga aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada anak cucuku di saat terakhir...,” tangannya yang dipenuhi bekas luka dan menyisakan tulang dalam balutan keriput kering mencengkeram gagang kursi roda dengan erat.
Suaranya semakin merendah, namun dendam kesumat tetap terpapar dari ucapannya. Dia melanjutkan, “Ketika semuanya sudah berakhir, aku hanya bisa menemukan jasad putriku dan suaminya. Aku tidak bisa menemukanmu di mana pun, hanya troli tempatmu tertidur sebelumnya. Rasa pedih dan kehilangan yang kurasakan tidak terhingga, sehingga aku memutuskan untuk membunuh anak buahku yang ceroboh dan membiarkan putriku mati.”
Binar menelan ludah, membayangkan seberapa banyak simbah darah di tangan lelaki tua yang ada di depan matanya ini.
“Aku berusaha menemukanmu, tapi mereka membuatmu menghilang seperti ditelan bumi. Puluhan nyawa sudah kuhabisi demi menemukanmu dan mencari keberadaan mereka, tapi kau tetap tidak ada. Selama bertahun-tahun, aku mencarimu tanpa henti. Perusahaan dan organisasiku sudah berhasil bangkit lagi, tapi apa arti bahagia dan kesuksesan jika kamu tidak berhasil kutemukan, nak?”
Dengan serak, dia menatap Binar dengan tatapan kerinduan sedalam samudera. Lelaki itu meraih jemari Binar yang kaku, seraya mengelusnya dengan lembut. Setiap elusan dari lelaki itu seharusnya membuat Binar merasa bergidik ngeri, karena tangan itu mungkin sudah menebas ratusan kepala manusia lainnya, bersimbah darah yang mengerak selama puluhan tahun.
Namun, entah mengapa ada sensasi kehangatan yang berbahaya saat Binar merasakan tangan lelaki tua itu.
“Setiap hari aku tidur dengan mimpi buruk, bayangan jasad putriku yang berlumuran darah dan menangis mencarimu selalu muncul. Aku menangis, menangis, dan menangis karena kamu tidak pernah terlihat di mana-mana. Sampai suatu hari, pegawaiku melihat sebuah video lucu yang menampilkan sosokmu sebagai model suatu desa. Video pendek yang singkat namun ternyata menjadi jawaban atas segala mimpi burukku selama ini.”
Tetesan air mata mulai mengalir dari pelupuk lelaki tua itu, membuat nurani di dalam Binar ikut merasa terhenyak. Empati, simpati, atau mungkin ilusi yang menjebak. Tidak seharusnya Binar merasakan perasaan apa pun kepada orang yang sudah menebas kepala kedua orang tua yang membesarkannya tanpa ampun.
“Agen 56 dan 78 berhasil menyembunyikan diri dengan baik hingga tak terendus atau terdeteksi oleh siapa pun. Kamu juga berhasil dicuci otak oleh mereka sehingga kamu tidak pernah mengingat siapa dirimu yang sebenarnya. Kamu bukan Binar, nak.”
Apa?
Jadi puluhan tahun yang kulalui di desa adalah palsu? Apakah segala hari-hari penuh tawa dan kasih sayang dari ayah dan ibu bukanlah kenyataan? Pelukan hangat yang kuterima selama ini adalah pelukan dari orang asing yang tidak pernah ada? Kebahagiaan yang kurasakan adalah kebahagiaan tak bermakna yang berawal dari kepalsuan?
Kalau begitu, aku siapa?
“Kamu adalah cucuku, Mario, anak dari putriku.” Lelaki tua itu menatap Binar dengan tegas, tatapannya seperti air terjun mengalir yang tenang namun letal. “Mereka bukan orang tuamu, kamu adalah anak dari Marliana dan Andrian. Kumohon, percaya padaku, nak.”
Orang waras mana yang sanggup memproses segala hal gila ini dalam waktu singkat? Bagaimana mungkin lelaki tua ini memohon kepercayaan dari Binar setelah memperlihatkan kegilaan berdarah ini? Bagaimana bisa dia bertingkah, oh, aku membunuh kedua orang tua yang mengasuhmu selama dua dekade, kepala mereka sudah kutebas dan akan kutunjukkan padamu agar pemandangan mengerikan itu terpatri dalam kepalamu seumur hidup, namun hal ini aku lakukan karena aku sangat sayang padamu.
Apa-apaan pembunuh sinting ini?
“T-tidak, aku bukan Mario,” dengan sekuat tenaga yang masih tersisa di tubuhnya, Binar mendeklarasikan apa yang ada di pikirannya. “Aku Binar. Aku tidak peduli siapa Anda atau sejarah masa lalu yang kumiliki. Anda adalah pembunuh. Pembunuh! Aku tidak mau memiliki hubungan apa pun dengan pembunuh!”
Binar berharap apa yang dia ucapkan tidak menyisakan celah keraguan sedikit pun pada siapa pun yang mendengarnya. Dia tahu benar bahwa posisinya saat ini memang tidak aman, akan tetapi nurani dan prinsipnya tetap berteriak bahwa seluruh orang di depannya bukanlah orang yang bisa dia percayai.
Meskipun lelaki tua ini benar kakeknya, lantas kenapa? Mereka hanya terikat oleh darah kental yang tak berarti.
Dia hidup dengan aman dan nyaman bersama ayah dan ibu selama dua dekade. Memori Binar mengulang masa kecilnya ketika ayah dan ibu merasa seperti dunia akan kiamat ketika Binar jatuh dari sepeda atau pun bertengkar dengan teman sekelasnya yang nakal. Apa pun motif awal mereka, mereka tidak pernah menyentuh sehelai rambut Binar dengan amarah. Mereka jauh lebih manusiawi daripada lelaki di depannya yang tidak segan-segan menancapkan pemandangan traumatis kepada anak yang dia anggap cucunya sendiri.
Lelaki itu terdiam, matanya intens seperti predator yang ingin mencengkeram apa pun di depannya. Dia meraih kantong baju di dadanya, lantas mengeluarkan sebuah foto polaroid yang sudah tampak lama. Perlahan, dia menunjukkannya kepada Binar, seolah menyuruh Binar untuk benar-benar menyaksikannya secara saksama.
Binar menatap foto tersebut, terlihat seorang lelaki, perempuan, dan bayi di dalamnya. Mereka tersenyum dan mencium bayi tersebut, kebahagiaan yang ada di foto tersebut meluap keluar meski kenangan mereka terkunci di dalam foto. Meski lelaki itu tidak berkata apa-apa, Binar tahu betul bahwa foto tersebut itu kemungkinan besar adalah fotonya bersama dengan ayah dan ibu kandungnya.
“A-aku tidak peduli. Mereka mungkin orang tua kandungku, tapi aku tidak memiliki memori tentang mereka sama sekali. D-dan juga, mereka terbunuh karena kesalahan Anda sendiri. Anda.... Anda sudah membuat semua orang tua saya mati terbunuh. Orang tua saya, dan orang tua kandung saya,” Binar menahan isak tangis yang membuat tenggorokannya sesak. Apakah ini adalah hal yang benar? Apakah adil untuk menyalahkan lelaki tua itu atas segala hal yang membuat takdir mereka harus bertemu dalam titik berdarah ini?
Namun, mulutnya tidak bisa berhenti. Binar tidak tahu apa yang membuatnya tetap berceloteh, mungkin amarah yang menggunung sejak tadi mulai meluap tak keruan. “Lagi pula, jika saya memutuskan untuk mengikuti Anda setelah memperlihatkan kepala orang tua saya, apa Anda harap saya membenci mereka dan langsung mengikuti perkataan Anda? Bukankah nanti Anda menyuruh saya untuk turut menjadi bagian dari grup kotor Anda yang membunuh banyak orang? Bagaimana saya percaya Anda tidak membunuh saya seperti yang Anda lakukan kepada mereka?”
Pemuda di belakang lelaki itu menekan rahangnya, menyiratkan emosi yang tak tertahankan setelah mendengarkan apa yang Binar ucapkan. Sebelum dia sempat menengadahkan pisau kepada Binar, lelaki tua di kursi roda itu menahannya. Tatapannya tidak pernah berganti sedetik pun dari Binar, terkunci dalam amarah terpendam dan harapan reuni indah yang sia-sia.
“Sepertinya Agen 56 dan 78 benar-benar berhasil mencuci otakmu, hingga melupakan siapa keluarga aslimu yang sesungguhnya. Putriku akan mengutukmu dari akhirat, nak.” Suara lelaki tua itu tegas dan tenang seperti komandan yang menyerukan perintah kepada bawahannya. Memecah keheningan yang menyelimuti seluruh ruangan gedung dengan nada tenang yang tajam seolah dapat membelah udara.
Akan tetapi, Binar tetap memegang pendiriannya. Tidak salah lagi, orang di depannya adalah orang berbahaya yang tidak akan segan-segan untuk menggorok leher orang lain yang tidak menuruti perkataannya.
Binar memutar kepala, mencari cara untuk keluar dari lingkaran setan ini. Sekalipun dia keluar dari gedung ini dengan selamat, apakah dia tetap bisa aman hidup tanpa dikejar oleh lelaki tua ini? Kalau dia memutuskan untuk menjadi keluarga dengan orang di hadapannya, apakah dia akan hidup dalam jalur menyimpang yang penuh mara bahaya dan meninggalkan desanya?
Apa pun pilihannya, Binar terjebak dalam ketidakpastian yang sama-sama berakhir dalam tragedi. Untuk itu, Binar memutuskan untuk mengikuti naluri yang dia miliki. Matanya perlahan mengamati area sekitar, dan melihat lelaki-lelaki kekar di sampingnya.
Dia tidak akan bisa kabur dari mereka seberapa keras dia mencoba.
Untuk itu, tanpa pikir panjang, Binar meraih pisau yang dia simpan di tas selempangnya dan mengarahkan pisau itu ke lehernya sendiri. Kumpulan lelaki yang mengelilinginya tersentak dan berusaha mengambil pisau tersebut, namun lelaki tua itu meneriaki mereka untuk tidak menyakiti Binar.
Keputusan ekstrem telah Binar pilih.
Tangannya yang memegang pisau tak berhenti gemetar, keringat mengucur deras dalam sekejap.
Tidak ada waktu untuk berpikir.
“Aku tidak dicuci otak. Mereka, dua orang yang kepalanya Anda tebas itu, adalah orang yang membesarkanku. Aku bahkan ragu apakah Anda benar-benar mencariku selama ini. Bukankah Anda mencariku hanya karena kau akan segera mati? Hah, tubuh itu saja mungkin akan terbang jika terkena angin. Jika Anda menyuruhku untuk menjadi keluarga lagi, aku tidak sudi. Aku lebih baik mati!”
Binar menatap lelaki tua tadi dengan tegas, tidak membiarkan kaki dan tangannya yang terintimidasi dengan aura si tetua menghalanginya. Akan tetapi, lelaki tadi tidak merespons dan semakin menatapnya dengan tajam.
Sejenak kemudian, dia kembali bersuara. “Jadi, kamu lebih memilih mati daripada kembali ke keluargamu satu-satunya? Keluarga dengan darah sama yang mengalir di tubuhmu?” tanyanya dengan suara yang mendalam namun tersirat geram yang tak tertahankan.
“Benar.” Binar mengepalkan tangannya, berusaha menahan gemetar yang tidak kunjung berhenti. “Aku lebih baik membunuh diriku sendiri daripada membiarkan darah kotor Anda mengalir di tanganku.”
Keheningan menyelimuti, dan hanya suara desah napas milik seluruh orang di ruangan ini saja yang terdengar. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam reuni keluarga berdarah ini.
Binar menatap kedua orang tuanya yang tergeletak tak bernyawa, tubuh mereka terpisah dari kepala seperti seonggok daging tak bernilai yang mengenaskan. Kehangatan dari tubuh ayah dan ibu yang selama ini memberikan dekapan penuh kasih telah lenyap. Mata Binar memerah, air mata kembali luruh dan tak terbendung. Dua hari lalu, tidak pernah terbesit di pikirannya bahwa dia akan menatap pemandangan sekeji ini.
Pikirannya lalu teralih kepada selembar foto pasangan muda bahagia yang sempat dia lihat tadi. Pasangan muda dalam foto itu mungkin juga tidak pernah terbesit dalam pikiran mereka bahwa kematian akan menjemput tanpa aba-aba. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah momen terakhir bersama Binar sebelum maut memisahkan mereka untuk selamanya.
Akan tetapi, sekuat apa pun dia berusaha, Binar tetap tidak mengingat apa pun tentang dua orang asing yang terasa dekat itu. Mereka terkubur dalam di sudut paling ujung memorinya.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Meski kebenaran sudah terungkap dengan pahit, namun kasih sayang Binar pada ayah dan ibu tidak bisa meluruh seketika. Bagaimanapun, mereka membesarkannya dengan cinta selama puluhan tahun.
Apakah Binar berdosa pada orang tua kandungnya dengan memiliki perasaan seperti ini? Bolehkah Binar mencintai orang yang telah merenggut nyawa kedua orang tua aslinya?
Rasa iba, duka, bimbang, dan amarah atas riwayat hidupnya membuat Binar merasa mual yang tak terhingga. Dia muak harus hidup dengan seluruh kenyataan ini. Bagaimana mungkin dia bisa hidup sebagai lelaki normal setelah semua ini?
Mengapa Binar merasa setiap hela napasnya terasa kotor dan tidak pantas untuk dihembuskan?
Segalanya buntu. Logikanya tumpul berusaha memikirkan kenyataan yang sukar untuk dipahami. Kehidupannya telah hancur sedemikian rupa, dan dia tidak bisa memikirkan masa depan yang normal menantinya.
Dia tidak sanggup lagi. Hidup dalam kemarahan, kebencian, dan genangan penuh darah mengiringi tiap langkah kakinya.
Dia tidak ingin hidup seperti itu.
Tanpa memikirkan konsekuensi apa pun, Binar menghunuskan pisau ke lehernya.
Teriakan panik menggema di seluruh penjuru gedung, namun Binar tetap tak bergeming. Dengan tekad yang bulat, dia menyayat lehernya sendiri dengan pisau tersebut. Mengakhiri pertanyaan dan kelut pikiran yang ada di kepalanya.
“Mario!” Samar-samar, lelaki itu mengeluarkan suara parau yang lantang dan membahana. Seluruh orang berusaha menjauhkan pisau dari tangan Binar, namun semuanya terlambat. Seolah tidak ada orang yang memprediksi bahwa Binar benar-benar akan mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah merembes deras dari tenggorokan Binar. Dengan penglihatan yang hampir pudar, Binar menyaksikan lelaki tua itu berjuang sekeras tenaga untuk bangkit hingga terjatuh dari kursi roda yang menopangnya. Teriakan histeris mengiringi tiap langkahnya yang pilu ketika dia menyeret tubuhnya sendiri untuk mendekati Binar.
“Mario, Mario!”
Binar merasakan bahwa kehidupannya sudah di ujung tanduk. Air mata mengalir hingga ke lubang telinga, pandangannya berpendar menatap kepala orang tuanya yang terbujur kaku di lantai dekat tangga. Foto yang ada di dekatnya perlahan dia genggam dengan sisa tenaga di tangannya. Foto ayah dan ibu kandungnya yang tampak bahagia, terpatri abadi dalam secarik kertas yang fana.
Lelaki tua itu menekan leher Binar, berharap dapat menghentikan darah yang tampak enggan berhenti. Binar menarik ujung bibirnya dengan pelan sekaligus berbisik lirih, “Ini.... bayaran.... yang sesuai.... dengan apa yang.... Anda lakukan.”
Perlahan, beban di kelopak matanya semakin berat. Dia tidak sempat mendengarkan atau menyaksikan respons yang diucapkan pria itu. Tidak ada lagi suara lelaki tua atau pun anak buahnya lagi yang masuk ke gendang telinga Binar. Semuanya menjadi gelap dan redup, hanya ada keheningan yang menusuk.
Binar tenggelam dalam kegelapan tak berujung.
Mungkin ini sudah saatnya.
Akan tetapi, dia tahu bahwa sebentar lagi, dia akan bertemu kembali dengan ayah dan ibu, yang mencintainya dalam setiap dekapan. Sekaligus dengan ayah dan ibu yang membawanya ke dunia ini, yang mendekapnya dengan cinta meski dalam memori yang tidak pernah dia ingat.
Binar terlelap dalam helaan napas terakhirnya, merangkul harapan yang dia bawa menuju keabadian.
Komentar
Posting Komentar