karam (part 2)
| Source:Freepik |
Part 2 dari cerita sebelumnya.
DANIEL
Terkadang, ada masa di mana aku ingin mati.
Entah itu mati tertabrak kereta, tenggelam di kolam renang
tempat ayahku dulu bekerja, atau mati karena entah alasan apa. Sejak kecil,
entah mengapa muncul pikiran bahwa mati mungkin lebih baik bagiku daripada
harus hidup di dunia.
Akan tetapi, imajinasi tentang kematianku hanya berakhir
sebatas imajinasi semata karena aku adalah laki-laki yang patut diberikan gelar
Lelaki Terpayah Abad Ini.
Sejak kecil, aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya pergi
bermain di lapangan bersama anak laki-laki sebayaku. Setelah pulang sekolah,
aku akan langsung kembali ke rumah, ke tempat yang sudah tidak ada bedanya
dengan neraka kesunyian itu.
Hanya ada aku dan ayahku di tempat yang sesak dan tidak
layak disebut rumah ini.
Sebenarnya, rumah sempit ini tidak terlalu buruk ketika
ibuku masih hidup. Ibu dan ayahku memang bukan orang tua yang terbaik di
seluruh dunia, akan tetapi setidaknya aku tetap bisa mendapatkan nutrisi yang
cukup untuk pertumbuhanku.
Namun, setelah ibuku meninggal mendadak karena sakit
jantung, duniaku runtuh begitu saja.
Ayahku menangis histeris hingga pingsan pada hari pemakaman
ibuku, yang sejujurnya membuatku merasa sedikit malu. Dulu, aku sering
didongengi ayah bahwa hanya ibuku satu-satunya orang yang bisa memahami dan
mencintai ayah sejak mereka pertama kali bertemu. Mungkin itulah yang
membuatnya merasa begitu terpukul setelah ibuku tiada.
Dia mengundurkan diri dari pekerjaannya, lantas gemar pergi
bertemu teman-temannya sambil meminum minuman keras yang sudah dioplos. Ayah
akan pulang tengah malam, sambil berceloteh tak keruan yang terkadang membuatku
berharap ayahku tidak usah pulang saja selamanya.
Kebiasaan buruk ayah berlangsung selama bertahun-tahun,
sehingga tidak ada orang yang bisa menghasilkan nafkah di keluargaku.
Kami hanya tinggal bersama di dalam rumah ini tanpa pernah
saling bertegur sapa. Aku muak dengan kelakuan ayahku yang tidak pernah bangkit
setelah kematian ibuku, dan aku muak pada ayahku yang telah gagal menjadi orang
tua dan membuatku harus menjadi dewasa di usia yang masih muda. Aku muak pada diriku
sendiri yang tidak pernah bisa mengubah kehidupanku yang terpuruk ini.
Aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku sebelum aku
bertemu dengan seseorang yang membuat hidupku berubah untuk selamanya.
Ari.
Pertemuan pertama kami berawal pada suatu hari yang
membosankan di SMA, ketika aku hanya duduk merenung di bangku seperti halnya
hari-hari biasanya. Saat pikiranku melayang ke imajinasi tentang seperti apa cara
terbaik untuk mati, tiba-tiba ada laki-laki yang menabrak mejaku dan memecahkan
kotak pensil yang aku taruh di atas bangku.
Laki-laki itu langsung menatapku dan segera meminta maaf.
”Aduh, sori sori sori!” Ucapnya dengan gugup karena
melihat kotak pensilku yang hancur dan memungut pensil serta bolpoin yang
berserakan. Aku hanya menatapnya tanpa peduli dan berkata, tidak apa-apa.
Akan tetapi, anak itu tetap tidak berhenti. “Eh, kok aku gak
pernah melihat kamu di kelas ini? Nama kamu siapa?” Dengan wajah semringah yang
langsung berubah setelah tadi terlihat begitu panik, laki-laki di depanku ini
langsung duduk di bangku depanku seraya menatapku dengan bersemangat.
“Uh.... namaku Daniel.”
“Oh, aku Ari. Aku akan ganti kotak pensilmu, berapa
harganya?”
“Tidak usah,” aku langsung menolak, “lagi pula ini kotak
pensil lama.”
Laki-laki bernama Ari dengan wajah yang ceria dan
menyebalkan ini menatapku cukup lama. Aku merasa canggung dan tidak nyaman karena
dia tetap menatapku tanpa berkata apa-apa, sehingga aku bertanya, “Kenapa,
sih?”
Sesaat kemudian, Ari tersenyum kembali sambil meringis.
“Hahaha, kalau begitu bagaimana kalau nanti kita main basket
bersama?”
Aku mengernyit mendengarkan ucapannya karena aku tidak
pernah memprediksi ini.
“Ayolah, kamu kan tinggi. Kamu bisa menggantikan temanku
yang sakit untuk tanding nanti. Deal, ya!” Setelah dengan seenaknya saja
membuat asumsi kalau aku setuju dengan ajakannya, Ari segera keluar dari kelasku
karena bel telah berbunyi, tanpa lupa untuk berpamitan dengan teman-temannya di
kelasku. Aku tidak sempat berteriak untuk menolak ajakannya karena dia langsung
kabur begitu saja.
Apa-apaan?
Aku hanya bisa terdiam menganga melihat kelakuan Ari. Akan
tetapi, jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa sedikit senang.
Karena pada akhirnya, ada orang yang memberikanku kesempatan
untuk keluar dari duniaku yang monoton dan menjenuhkan.
Sejak saat itu, aku dan Ari sering bermain bersama. Mulai
dari basket, sepak bola, pergi ke rental PlayStation untuk pertama kali, semuanya
aku lakukan bersama dengannya.
Tanpa kuduga, Ari adalah anak yang nyaman untuk diajak
bicara. Dia juga tidak pernah bertanya tentang apa pun mengenai hal yang
membuatku merasa kurang nyaman. Kami hanya bermain bersama, bercerita tentang
hal-hal menarik yang terkadang tidak terlalu signifikan, serta makan makanan
yang menurut kami lezat.
Tanpa kusadari, aku merasa eksistensi Ari membawa warna baru
yang cemerlang dalam hidupku.
Senyuman dan ocehan Ari menyelamatkanku dari situasiku di
rumah bersama ayah yang tidak berguna.
Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk setuju berkuliah di
tempat yang sama dengannya setelah kami lulus SMA.
Dan oleh sebab itu juga, terkadang aku mengabaikan kelakuan
Ari yang sering membuatku mengernyit dan tidak nyaman.
Seperti selalu menjelek-jelekkan kakak iparnya yang dia
anggap hanya menikahi kakaknya demi uang saja dan mirip seperti pelacur. Atau
ketika Ari mencuri dua lusin rokok dari toko milik kakek-kakek paruh baya yang memiliki
pendengaran buruk. Atau ketika Ari memutuskan untuk memacari tiga perempuan
dalam waktu yang bersamaan. Atau ketika Ari berselingkuh dengan atasan
tempatnya bekerja paruh waktu yang sudah menikah.
Perilaku Ari semakin berubah drastis menjadi lebih buruk ketika
kami memasuki dunia perkuliahan.
Senyuman Ari yang dulunya secerah matahari, kini membuatku
merasa sedikit merinding karena dia tidak peduli pada siapa saja yang dia
sakiti. Terkadang, dia akan pulang ke kos kami pada tengah malam dalam keadaan
setengah mabuk dan membuatku harus membersihkan muntahannya yang berceceran di
lantai.
Sempat terbesit dalam pikiranku, apakah kita benar-benar
teman? Apakah teman yang baik adalah teman yang selalu mengabaikan perilaku tidak
baik temannya sendiri?
Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk mengubah dinamika
antara aku dan Ari, sehingga aku hanya menutup mata terhadap seluruh
kelakuannya. Aku merasa bersyukur dan berutang budi karena dia tetap menganggapku
sebagai temannya. Karena bahkan sejak kita masuk bangku kuliah, hanya dia
satu-satunya orang yang senantiasa memahami dan mendengarkan ceritaku tentang
ayah.
Sampai suatu hari, akhirnya dia melakukan sesuatu yang
membuatku berpikir bahwa mungkin, lebih baik jika aku tidak pernah mengenalnya
seumur hidup.
Hal itu dimulai dua bulan lalu, ketika kepalaku sedang
pening dengan tugas-tugas kuliah yang tak selesai-selesai dan hanya bertapa di
dalam kos. Aku tidak pernah memperhatikan bahwa pada masa-masa itu, Ari hanya
masuk sekali dalam seminggu dan jarang sekali masuk kuliah. Karena kita tidak
berada di jurusan yang sama dan aku tidak terlalu sering berkomunikasi
dengannya karena kesibukan masing-masing, aku tidak menyadarinya.
Akan tetapi, pada suatu malam Ari tiba-tiba pulang dengan kondisi
yang buruk. Kepalanya sedikit berdarah dan kaosnya yang berwarna putih menjadi
kusam dan berlubang dengan percikan darah dimana-mana.
Melihat kondisinya yang tidak keruan, tentunya rasa kagetku
tak tertahankan. “Kamu kenapa, Ri?!”
Dengan panik, aku langsung menghampirinya yang masih berdiri
sambil terhuyung-huyung di depan pintu kos. Aku membopongnya untuk tidur ke
kasur dan dengan panik mencari ponselku untuk memanggil ambulans.
Namun, sebelum ambulans mengangkat teleponku, Ari langsung
mengambil ponselku dan merintih. Dia tidak mampu berkata apa-apa karena badannya
babak belur, dan aku langsung mengerti bahwa dia melarangku untuk memanggil
bantuan.
Malam itu, aku mengabaikan pening di kepalaku dan sibuk
membantu membersihkan seluruh luka di tubuh Ari. Meskipun lukanya tidak fatal,
akan tetapi dari bekas luka dan kondisinya Ari sepertinya habis dihajar oleh banyak
orang.
Setelah kami terdiam selama berjam-jam, Ari akhirnya buka
suara.
“Maafkan aku, Niel.”
Mendengarkan ucapannya secara tiba-tiba, aku hanya bisa mengernyit.
“Minta maaf kenapa?”
Ari memegang kepalanya sambil sedikit kesakitan dan hanya duduk
termenung menatap lantai. Suasana senyap yang tidak nyaman menyelimuti kamar
kos kami yang sepi. Aku tidak tahan dengan kondisi ini, tapi aku tidak ingin
mendesaknya untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya.
Setelah beberapa menit kami berada di keheningan yang
menyesakkan, akhirnya Ari berbicara. “Jadi, Niel...”
Dia berbicara sambil kesakitan.
“Tadi... aku abis dihajar geng Bang Wildan. Karena aku punya
utang ke dia 50 juta tapi aku belum bisa mengembalikannya... Dia juga tahu
kalau aku dan istrinya sempat ketemu beberapa kali.”
Aku mendengarkan dengan saksama. Bang Wildan adalah kerabat
jauh Ari sekaligus orang yang membantu Ari mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja
paruh waktu di perusahaannya. Mendengarkan apa saja yang Ari lakukan selama
ini, aku berpikir kalau tidak mengherankan sama sekali jika dia akan mendapatkan
karma atas kelakuannya. Cepat atau lambat, mungkin hal ini pasti akan terjadi.
“Lalu, Bang Wildan bilang kalau aku harus mengembalikan
uangnya dan jauh-jauh dari istrinya. Tapi, Niel...” dalam sejenak, aku bisa
melihat sedikit raut ketakutan saat dia menjeda ucapannya. “Aku tidak punya
uang sama sekali. Dan dia bilang aku harus mengembalikannya minggu ini juga atau
dia akan membunuhku di tengah hutan...”
Aku menelan ludah dan turut serta merasakan kengerian dan
ketakutan yang membuatku merinding. Meskipun Bang Wildan adalah orang yang
senantiasa murah senyum dan membantu kita untuk selamat di tengah hiruk pikuk kota
ini, akan tetapi dia juga adalah sosok pebisnis kejam dan tidak segan-segan
untuk menghajar orang lain jika ada sesuatu yang menghalanginya.
Saat aku bertemu dengannya pertama kali ketika diajak Ari,
aku tahu bahwa Bang Wildan adalah sosok yang tidak boleh diremehkan sama
sekali. Perawakannya yang gagah dan penuh wibawa namun membawa aura mematikan bisa
kurasakan sejak pertama kali aku melihatnya.
Untuk itu, aku percaya bahwa apa yang diucapkan oleh Ari mirip
seperti vonis hukuman mati yang tidak main-main. Aku juga tidak memiliki
pikiran untuk bertanya bagaimana mungkin dia bisa memiliki hutang sebanyak itu
kepada Bang Wildan yang sudah terkenal kejam.
Bulu kudukku tiba-tiba merinding merasakan kengerian Bang
Wildan seolah-olah dia berada di dekatku.
“J-jadi...” aku mulai mencerna ucapan Ari dengan gugup. “Kamu
harus bayar seluruh utangmu minggu ini? Kamu sudah tanya kakakmu?”
“Belum, aku belum berani bilang....” Ari menggaruk rambutnya
dengan frustrasi. “Orang gila mana yang bisa menyuruh orang lain untuk punya
uang 50 juta dalam 5 hari saja? Dipikir uang bisa muncul tiba-tiba seperti daun
apa?!”
Aku terdiam dan mencoba mulai berpikir. Bagaimanapun
kelakuan Ari selama ini, dia tetap adalah temanku. Teman dekat yang mengerti
apa kekurangan dan rahasiaku, serta orang yang memahami segala impian dan
mimpi-mimpiku. Dia tidak pernah meremehkanku atau menatapku dengan tatapan
kasihan, karena dia menganggapku sebagai temannya yang setara.
Apa aku boleh hanya diam saja saat teman dekatku berada di
ujung jurang seperti ini?
Dengan segera, aku membuka aplikasi bank yang kupunya dan
mengecek tabungan yang kumiliki. Tabungan yang kukumpulkan bertahun-tahun sejak
kecil dan hasil dari pekerjaan paruh waktu yang kulakukan sambil berkuliah. Jumlahnya
bahkan tidak mencapai setengah dari total uang yang diminta oleh Bang Wildan.
Keringat mulai mengucur di dahiku sambil merasakan panik
yang dialami oleh Ari.
“Ri, aku cuma punya 15 juta.” Aku berkata sambil menatap Ari
yang terkejut dan terbelalak dengan apa yang kuucapkan.
Dengan panik, dia menggelengkan kepalanya. “Niel, gak usah
begitu. Aku bercerita bukan karena ingin berhutang ke kamu. Aku tahu kamu
mengumpulkan uang-uang itu bertahun-tahun lamanya, bagaimana mungkin aku tega
mengambilnya darimu!?” ucap Ari sambil menaikkan nada suaranya.
Aku menghela napas berusaha untuk tenang. “Tidak apa-apa. Kamu
pakai saja dulu, nanti akan kubantu untuk mencari sisanya. Kamu juga harus
minta tolong temanmu atau kakakmu untuk menutupi sisa hutangmu.”
Ari masih menatapku sambil kehabisan kata-kata, mungkin
terkejut dengan mudahnya saat aku menyerahkan uang kepadanya. “Niel... Benar
tidak apa-apa?”
Aku menatapnya dengan tegas. “Tidak apa-apa. Daripada kamu
mati dihajar Bang Wildan, lebih baik kamu bayar hutangmu saja pakai uangku.”
Setelah terdiam beberapa saat, Ari akhirnya hanya
mengangguk. “Terima kasih, Niel.... Aku memang benar-benar teman yang buruk.”
Melihatnya yang semakin lesu, aku menepuk pundaknya dengan
cukup keras dan tersenyum. “Santai. Itulah gunanya teman, lagian kamu juga
selalu membantuku selama ini.”
Ari menatapku dan tersenyum getir.
Aku bisa merasakan bahwa dia merasa bersalah dengan perasaan
yang begitu tulus.
Sebuah pikiran bodoh dan naif yang membuatku ingin
menghajar diriku sendiri.
“Terima kasih, Niel. Aku mungkin sudah mati kalau tidak ada
kamu.”
Aku tertawa pelan sambil meyakinkannya bahwa tidak masalah
bagiku untuk memberikannya uang pinjaman. Hanya dalam waktu beberapa menit saja,
uang puluhan juta yang menjadi tabunganku dan hasil kerja kerasku selama
bertahun-tahun hidup tanpa bergantung ayah, kini sudah kukirimkan kepada Ari. Seumur
hidup, aku tidak pernah memprediksi akan melakukan hal yang berisiko seperti
ini.
Ari tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepadaku.
Kemudian, dia mulai bersiap-siap untuk membereskan
barang-barangnya. Dia berencana untuk menghilang selama beberapa waktu,
khawatir jika geng Bang Wildan mencarinya selama 5 hari ini sebelum dia sempat berhasil
mengumpulkan uang 50 juta. Aku menyarankannya untuk tetap menghubungiku agar
aku bisa mengirimkannya uang saat aku berhasil mendapatkan uang yang cukup.
Setelah dia membereskan barangnya yang ada di kos ke dalam
tasnya yang cukup besar, Ari kembali menatapku dengan sendu. Aku juga hanya
bisa terdiam dan tersenyum getir melihat teman yang selalu menjadi penyemangatku
ini tampak menyedihkan seperti ini.
Sambil tersenyum pedih dengan makna yang tidak bisa
kudeskripsikan, Ari berkata pelan, “Maafkan aku, Niel.”
Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Dia mengangkat
tasnya dan segera berangkat pergi meninggalkan kos kami. Aku menatap punggungnya
yang semakin lama semakin menghilang di tengah kegelapan dan kesunyian kos ini.
Sama sekali tidak terbesit di pikiranku saat aku
memperhatikan punggungnya yang semakin memudar dari pandanganku, bahwa malam itu
justru menjadi kali terakhir aku bertemu Ari untuk selamanya.
Komentar
Posting Komentar